kontakpublik.id, SERANG--Globalisasi -- sebagai konsekuensi logis dari upaya pencarian petadaban baru manusia di bumi -- tak bisa terelakkan, sehingga hanya bisa disiasati dengan cara yang lebih bijak -- lebih baik untuk diambil saja hikmahnya -- sambil menghindar dari dampak buruk bawaannya. Karena itu, menolak sepenuhnya sifat dan sikap dari budaya global yang membawa serta perangai buruknya diperlukan cara yang bijak, karena sifat dan sikap peradaban global akan melaju, seiring dengan upaya pembentukan peradaban yang tidak mungkin surut ke belakang.
Esensi dari globalisasi itu sendiri sebagai proses dari integrasi ekonomi, politik dan budaya antar bangsa dan negara semakin kompleks, sehingga sekat-sekat geografis, geopolitik, georkonomi dan feobudaya serta agama semakin terbuka terkuak lebar nyaris tanpa halangan sedikitpun. Bahkan batasan nasionalisme juga menjadi kabur. Mulai dari pertukaran barang, jasa, ide hingga teknologi dan budaya hingga agama antara bangsa dan negara begitu terbuka seakan hendak melahap apa saja yang ada.
Berbagai aspek yang penting dari globalisasi dalam bidang ekonomi utamanya adalah perdagangan internasional, investasi asing -- termasuk tenaga kerja -- bersamaan dengan pergerakan modal yang terus meningkat. Dalam bidang teknologi misalnya, infornasi dan komunikasi begitu cepat melesat, nyaris melampaui jecepatan bicara manusia ketika sedang membahas suatu persoalan atau sebuah perencanaan yang hendak dilakukan.
Nilai-nilai budaya baru yang lahir kemudian, seakan mendahului generasi yang sedang bertumbuh dan berkembang dengan gaya hidup antara suku bangsa di dunia tanpa batas. Dalam bidang politik pun, kerjasama antara organisasi maupun lembaga internasional melansir dengan re regulasi global.
Secara faktual, globalisasi dapat memberi manfaat untuk meningkatkan ekonomi, akses teknologo dan pengetahuan serta persilangan budaya antar bangsa di dunia. Namun bisa saja menimbulkan ketidaksetaraan ekonomi dan hilangnya identitas budaya suatu bangsa yang khas sampai pada dampak lungkungan yang mepengaruhi dunia, seperti cuaca ekstrem yang tengah melanda dunia, termasuk Indonesia dengan curah hujan yang mengakibatkan banjir di mana-mana sejak pertengahan tahun 2025 hingga memasuki tahun 2026. Meski begitu, peran negara yang mampu mengatur globalisasi seperti Eropa mampu memiliki pasar tunggal serta mempunyai regulasi yang kuat untuk melindungi lingkungan dan bidang pekerjaan. Negara Singapura sebagai contoh yang memiliki ekonomi terbuka dengan regulasi yang ketat mampu melindungi keamanan dan stabilitas negara.
Jadi globalisasi memiliki impak yang sangat signifikan berbagai bidang -- tak hanya sebatas ekonomi dan politik serta budaya dan agama -- kendati tetap mendatabgkan juga dampak positif yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bagi manusia.
Keuntungan dari globalusasi dapat meningkatkan kerja sama internasional, demokratisasi serta pengawasan bersama bangsa dan negara yang sda di dunia.
Kendati begitu, akibat dari globalusasi pun terbukanya celah keterlibatan bangsa dan negara asing. Dan bisa menjadi pemicu ketegangan politik antar negara, terutama dalam hal perbedaan kepentingan dalam berbagai bidang. Keluarnya Britania Raya dari Uni Eropa (Brexit) merupakan contoh nyata dari pengaruh globalisasi yang mengusung nilai baik dan buruk. Begitu juga terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat dan hilangnya pekerjaan di negara tersebut.
Dampak nrgatif dari globslisasi nisa menimbulkan ketimpangan ekonomi, persaingan yang semakin berat, dan terbukanya peluang jetergantungan ekonomi di pasar internasional serta meningkatnya krisid ekonomi.
Dalam perspektif budaya dampak globalisasi yang jelas dapat menggerus identitas budaya lokal dan komersialisasi budaya -- seperti pertunjukan seni yang sakral -- telah menjadi suguhan yang lebih bersifat komersial. Begitulah, benturan nilai-nilai tradisional dan seni maupun budaya modern yang bebenturan hingga terus mendesak untuk menemukan bentuknya yang baru. Agaknya, begitulah benturan peradaban dalam era globalisasi yang terus membuncah mencari bentuk dan modelnya yang baru Banten, 25 Januari 2026 (red)
