kontakpublik.id, SERANG--Kesetiaan dalan perkawanan bisa menjadi persaudaraan yang abadi, karena sudah teruji oleh sang waktu. Tapi waktu juga yang akan menentukan keabadian itu berlanjut, atau sampai atau sampaikan di penghujung waktu yang menentukan harus berakhir, sambil masing-masing pihak menyimpan catatan nostalgia yang kelak pada saatnya nanti perlu untuk dikenang, bukan sekedar untuk diingat dan dievaluasi, mengapa perpisahan itu harus terjadi.
Perpisahan yang sesungguhnya memang akan mengakhiri suatu pertemuan yang abadi sekalipun. Sebab takdir dan nasib tidak menjadi otoritas seorang manusia pun di dunia ini. Karena seperti apapun usaha yang dilakukan, Tuhan juga yang akan menentukannya. Sebab manusia hanya pelakon dari sebuah pementasan untuk suatu kisah yang satu dengan kisah yang lain akan terus bertukar keliru tanpa pernah dapat untuk diramalkan sebelumnya, karena manusia sekedar berusaha semata untuk menjalani lakon yang telah ditentukan sebelumnya oleh sang Sutradara.
Sesal dan kekecewaan adalah wajar menandai peristiwa perpisahan yang tidak pernah dikehendaki atau dibayangkan sebelumnya, tapi toh nasi telah menjadi bubur. Sehingga yang terpenting adalah, bagaimana membumbui nasi yang telah menjadi bubur itu tetap bisa menjadi santapan yang sedap dan nikmat, sekalipun hanya dalam pengertian batin yang lebih abstrak dan absurd. Sebab pertunjukan toh, tetap harus berlangsung dengan kisah dan cerita yang mungkin bisa lebih menyedihkan dari apa yang pernah dialami terdahulu. Namun bisa juga sebaliknya, seperti drama kolosal dengan topik dan peran yang dapat dilakukan lebih spektakuler atau justru lebih tragis dari kisah seorang nakhoda kapal yang ditinggal oleh seluruh penumpang, karena kapal akan segera tenggelam, dan mungkin akan menjadi barang mainan bagi ikan hiu di laut yang ganas itu.
Ketangguhan seorang stir man atau stir girl dari sebuah kapal yang mulai tenggelam, bukan wujud dari komitmen, tetapi konsistensi dari sikap kerja seorang profesional yang patuh dan taat pada etika dengan moral yang terpuji. Begitulah wujud kesetiaan yang memiliki etika dan moralitas untuk tidak khianat pada sikap kerja profesi yang mencerminkan akhlak mulia untuk tidak menjadi pengkhianat seperti jalinan dari perkawanan, pertemanan atau pun sebagai rekanan dalam satu tim kerja yang tak cuma mau enak sendiri.
Karena itu, tahapan dari kesetiaan perkawanan untuk menjadi yang setia dan sehati itu memang tidak gampang dilakukan. Sebab terkadang, kesetiaan itu perlu pengorbanan -- setidaknya perasaan yang acap disebut tenggang rasa -- entah sampai mana batas toleransinya untuk ditolerir. Namun yang pasti, tenggang rasa itu bisa menjadi nikmat ketika dapat dipahami oleh yang bersangkutan, sehingga menunjukkan sikap untuk tidak pernah mengulanginya.
Dalam peraturan perkawanan atau pun kemitraan yang saling memahami dan penuh tenggang rasa hingga saling ingin mengobati kekecewaan dari pihak yang lain, biasanya kelanggengan bisa terus berlanjut, seperti jalinan kemesraan suami istri yang mampu melalui pesta perak dan pesta emas sampai di penghujung senja. Jadi kesetiaan itu tidak hanya menjadi prasyarat dalam ikatan perkawinan yang tak harus tertulis atau perlu diucapkan dalam ajar nikah, tapi dalam ikatan perkawanan, relasi dan rekanan kerja, bahkan hubungan antara bawahan dengan atasan, dan warga bangsa bersama negara harus membangun serta menjaga sikap dan sifat nasionalisme sebagai bentuk kesetiaan terhadap bangsa dan negara agar tidak sampai digadaikan oleh warga bangsa lainnya yang cuma mencari untung untuk dirinya sendiri. Artinya, kebangkitan nasional tidak cukup hanya dirayakan dan cuma dikenang, tetapi harus dan wajib diwujudkan dalam realitas kehidupan yang nyata, seperti cinta yang mungkin tidak perlu diucapkan, tapi harus nyata diwujudkan. Banten, 20 Mei 2026 (red)
