kontakpublik.id, SERANG--Dari pergaulan teologis, kata Yudo Latief manuaia dapat memperoleh dorongan semangat kerja meningkat menjadi panggilan moral, disiplin diri yang bisa memperkuat kebijakan yang ugahari sebagai kekuatan spiritual. Tapi realutasnya di Indonesia agama menjadi asesoris penghias diri untuk tampil di muka publik sebagai identitas unggulan jauh dari kerendahan hati untuk merunduk seperti kesadaran dari kepasrahan sujud yang ilhlas tanpa ingin diketahui oleh siapapin, kecuali Tuhan.
Inna sholati wanusuki wamayahya ya hirabbil alamin, terkesan hanya semacam mantra hapalan yang tak bergema dari dalam dada. Mungkin seribu ayat dan hadis sudah tersusun rapi dalam ingatan, tapi lupa untuk mewukudkannya dalam realitas kehidupan yang sulit maupun kemewahan yang berlimpah. Bersedia diperas atas nama pajak, tapi alfa membayar zakat fitrah dan zakat mal serta sedekah untuk fakir miskin. Apalagi untuk wakaf bagi kesehateraan umat, seakan tiada sebanding dengan biaya kampanye untuk merebut posisi dan kedudukan yang berada di luar amanah.
Tradisi dan budaya balap karung serupa itu semakin marak dan lestari, seakan pantas menjadi warisan leluhur yang pantas dibanggakan hingga beralih dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dan kira sempat terpesona -- mungkin juga bangga karena pernah melintas dalam pertarungan budaya seperti itu yang kini telah menjadi kenangan namun tetap menjadi tontonan.
Rumah ibadah yang mewah tidak lagi menjadi tempat melepas dahaga kerinduan pada sang pencipta. Tempat mewah sudah menjadi yang tak memberi kesejukan. Sebab dia terkunci rapat seusai formalitas ritual dilakukan secara mekanis, tidak dinamis mengalirkan angin surga yang menyejukkan kehidupan yang semakin gersang. Namun dalam ideologi yang dianggap paling modern hari ini, asesoris pencitraan telah menjadi pasal yang tidak tertulis dalam konstitusi kita. Banten, 13 Mei 2026 (red)
