kontakpublik.id, SERANG--Pengalaman spiritual itu yang terpenting adalah memahami, menghayati dan merasakan getaran yang terjadi dalam tubuh kita, ketika mengalami suatu peristiwa yang bernilai spiritual. Jadi, tidak terlalu penting besarnya peristiwa yang kita alami itu terjadi dan kita rasakan. Sebab yang lebih penting adalah kesadaran saat mengalami peristiwa itu terjadi, lalu menghayatinya sebagai sesuatu yang memiliki nilai yang dapat diambil sebagai pengalaman batin yang mampu memberi nilai lebih atau semacam kekuatan supra natural yang bisa diabadikan, setidaknya dalam memori ingatan, atau dalam bentuk tertentu yang dapat dinikmati oleh orang lain sebagai suatu pengetahuan untuk dijadikan sandingan dalam khazanah spiritual yang mungkin sudah ada sebelumnya.
Artinya, dalam rangkaian pengalaman spiritual yang dapat dialami oleh setiap orang itu yang terpenting adalah daya tangkap dari kemampuan spiritual untuk mentransformasikan pengalaman batin yang paling dalam dari peristiwa yang terjadi untuk memperkaya pengetahuan, pemahaman dan penghayatan spiritual dari peristiwa tersebut. Jadi yang utama dari pengalaman spiritual, seberapa pun hebat dan dahsyatnya dari peristiwa yang dialami tersebut yang paling utama adalah daya tangkap terhadap peristiwa tersebut untuk kemudian diolah menjadi bahan perenungan untuk menangkap dan mengambil hikmah dari peristiwa yang dialami tersebut agar dapat diurai menjadi sesuatu yang dapat dinikmati manfaatnya bagi jiwa dan batin dengan penuh kebahagiaan.
Dalam konteks inilah, untuk memaknai suatu pengalaman spiritual yang baik dan sempurna bisa memberi manfaat, dapat dipahami tidak tergantung pada besar serta dahsyatnya peristiwa yang terjadi, karena yang lebih penting dan utama adalah pencerapan, pemahaman serta perenungan dengan kesadaran untuk mendalami dan memaknai peristiwa itu sendiri guna memperkaya kepustakaan batin dan jiwa sehingga dapat terasa semakin segar dan bugar.
Suasana kenyamanan serupa inilah sesungguhnya bagian dari capaian laku spiritual yang lebih efektif dan efisien dalam menjalani laku spiritual diantara celah kosong kesibukan hidup dan aktivitas sehari-hari bisa terus berjalan berbarengan tanpa perlu menyita waktu secara tersendiri. Dari cara menekuni laku spiritual seperti ini, sangat bisa untuk diharap bersatunya aktivitas sehari-hari dengan pendalaman dari laku spiritual terhindar dari sifat dan sikap ekslusif. Sehingga aktivitas sehari-hari dapat menyatu serta semakin akrab salam tata pergaulan sehari-hari, dalam suasana kerja serta beragam interaksi sosial dengan masyarakat luas.
Oleh karena itu, pengalaman spiritual yang paling remeh dan sederhana sekalipun -- yang dialami arau sedang terjadi -- esensinya utamanya adalah memaknainya peristiwa itu dengan kemampuan dan kesadaran serta pemahaman yang lebih komprehensif, tidak sekedar seperti angin lalu. Padahal, wujud angin itu sendiri tak tampak, kecuali diaksentuasikan dengan cara yang kreatif bersama asap sebagai pertanda dari keberadaan angin itu sendiri.
Jika pun angin dapat dimetaforakan sebagai wujud dari spirituaitas yang nyata, maka hembusan angin yang sepoi dan menyejukkan itulah spiritualitas telah semakin mendekat pada Tuhan selaku Sang Pencipta Yang Kuasa atas jagat raya ini. Meski sudah begitu capaian dari pemahaman dan kesadaran dari keindahan spiritual yang sudah dapat direngkuh dan diraih, pemandangan yang indah sepanjang perjalanan spiritual yang sesungguhnya baru akan berakhir saat berada di liang kubur. Artinya, hidup ini sesungguhnya memang harus dan layak untuk dipenuhi oleh keindahaan-keindahan yang membahagiakan. Tak hanya untuk diri sendiri, karena kebahagiaan yang lebih membahagiakan adalah, membahagiakan orang lain Banten, 14 April 2026 (red)
