kontakpublik.id, SERANG--Potensi setiap manusia untuk mencapai kecerdasan spiritual yang maksimal, tidak hanya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, tapi juga untuk memahami diri sendiri dalam bentuk kekuatan sekaligus kelemahan. Kecuali itu, potensi untuk memiliki sikap dan sifat empati yang baik dan terarah untuk memahami serta merasakan perasaan orang lain sangat diperlukun untuk menekan sikap egoistis yang cenderung untuk mengabaikan hak dan kepentingan orang kain.
Sikap empati yang dangkal dan rendah ini -- tidak hanya perlu diperbaiki untuk memiliki dan menjaga sikap rendah hati -- tetapi juga sangat diperlukan untuk menakar diri mulai dari keinginan untuk mendengar pendapat orang lain, serta menerima perbedaan pendapat atau pikiran agar tidak selalu merasa benar atau bahkan memaksakan pendapat atau pikiran sendiri untuk diterima oleh orang lain.
Namun yang lebih penting dari semua itu -- upaysls untuk mengembangkan potensi diri mencapai kecerdasan spiritual yang maksimal adalah agar dapat memiliki kemampuan merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap gerak dan aktivitas kehidupan selama hidup di bumi, sebelum hidup di alam barzah. Dan kemampuan untuk merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap langkah di dunia ini, sangat diperlukan bagi setiap manusia agar dapat senantiasa mempunyai rasa tanggung jawab atas segala perbuatan, baik yang cuma diucapkan, apalagi untuk perilaku yang dipraktekkan dalam hidup dan kehidupan sehari-hari hingga akhirnya mati.
Dalam praktek dari laku spiritual seperti meditasi, tafakur dan kemampuan serta kemauan melakukan semua itu dapat menghantar perebungan dan penghayatan tergadap semua perilaku serta perbuatan yang tidak baik atau belum sempurna untuk diperbaiki agat dapat lebih banyak memberi manfaat tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga tidak kalah penting bisa memiliki atau mendatangkan manfaar bagi orang banyak. Setidaknya begitulah pesan profetik dari kangit yang disampaikan melalui kitab suci untuk menuntun manusia yang ingin menjaga nilai-nilai kemanusiaan manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia dibanding makhluk Tuhan lainnya.
Kemampuan dan kecerdasan spiritual seseorang akan ditandai oleh sikap dan sifat pemaaf. Sabar, tak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Sehingga kerendahan hati untuk selalu bersyukur dan menghargai segenap pemberian Tuhan -- baik secara langsung maupun tidak seperti melalui perantara pihak lain dapat membatasi sikap dan sifat tamak, kenaruk. Apalagi sampai harus menggagahi hak-hak orang lain. Sehingga pola hidup sederhana -- bersahaja dapat ikut menekan sikap dan sifat sombong. Jumawa atau perasaan yang berlebihan, seperti merasa lebih hebat, lebih pintar atau lebih jenius dari orang lain. Apalagi kesombongan itu hanya berdasarkan perasaan lebih kaya -- atau bahkan merasa kebih berkuasa dari orang lain.
Pada hakekatnya, upaya untuk mengembangkan potebsi spiritual yang diniliki oleh setiap manusia sangat penting dan perlu untuk memperkuat dan meneguhkan etika dan moral sebagai penyangga akhlak yang kuat dan teguh untuk memiliki kepribadian yang tangguh menjaga diri untuk mencapai keseimbangan hidup yang lebih baik dan lebih mulia sebagai manusia yang mempunyai kerakter pribadi yang luhur. Sebab kecerdasan intelektual pun sangat memerlukan tuntunan dari kecerdasan serta kemampuan spiritual, agar manusia tidak sampai tersesat menjadi bejat dan maksiat dalam arti politik, ekonomi dan sosial serta agama yang kini semakin marak dijadikan komoditas komersial akibat orientasi hidup dan kehidupan terperangkap dalam pada nilai-nilai material, bukan spiritual. Banten, 1 Maret 2026 (Red)
