.
kontakpublik.id, SERANG--Pengkhiat itu hanya dimiliki oleh manusia yang cuma mementingkan dirinya sendiri, tanpa mengindahkan harga diri, kepentingan orang lain dan tidak punya rasa malu. Karenanya pengkhianatan menjadi sangat terkutuk, tidak ada maaf yang bisa dan layak untuk diberikan secuil pun. Sebab, tabi'at dari seorang pengkhianat itu adalah manusia yang paling hina dina, bukan karena memiliki rasa kesetiaan, tapi tidak lagi memiliki tempat -- sekedar untuk singgah sementara waktu -- pada hati manusia yang lain.
Karena itu bagi manusia yang masih mau membagi tempat bagi seorang pengkhiabat adalah kebodohan yang juga tidak terampunkan. Sebab dengancsra dan sikap seperti itu artinya bukan sekedar bisa melanggengkan sikap dan budaya khianat kepada orang lain, tapi kecurigaan dan kewaspadaan kepada orang yang bersangkutan patut dicurigai, Katena sangat mungkin dia pun penganut ideologi pengkhianatan yang dianggap sah dan abdol dari peradaban kemuliaan manusia yang sejati.
Pendek kata, tiada tempat dan kata maaf bagi seorang pengkhianat untuk berbagi dalam hidup dan penghidupan di dunia ini. Sebab pengkhianatan itu jelas dilakukan dengan cara serta pilihan nalar yang sadar yang mengacaukan sikap dan sifat kesetiaan terhadap siapapun mereka yang merasa telah dia khianati. Sebab pengkhianat dalam kerja bisnis, politik maupun dalam aktivitas sosial dan dalam wilayah keaganaan, sesungguhnya pantas dan wajib untuk dikutuk, setidaknya agar tidak lagi terjadi yang dilakukan oleh orang lain terhadap diri kita, baik yang dilakukan secara langsung atau pun tidak langsung terhdap diri kita.
Sesungguhnya, pengkhiabanan seseorang terhadap orang lain atau pihak manapun yang dapat kita ketahui telah terjadi atau dikakukan oleh satu pihak terhadap pihak lain itu, lebih dari cukup untuk memberi penahanan dan peringatan terhadap semua pihak, bahwa apa yang telah dilakukan orang tersebut cukup memberi peringatan bagi diri kita untuk tidak lagi memiliki urusan atau pekerjaan dengan yang bersangkutan. Sebab diri kita pun, pada saatnya yang dia anggap perlu dikhianati juga, tidak pernah ragu Ajan d8a lalukan. Sebab sikap dan sifat dari hakekat pengkhianatan itu adalah tabi'at bawaan yang belekat, dan pasti akan tetap dilakukan ketika memperoleh momentum -- waktu dan kesempatan yang tepat -- karena bagi orang yang melakukan oengkhianatan ini memiliki nilai heuntunga, tidak hanya dalam nilai ekonomi, tapi juga bisa bernilai politik, atau sekedar gengsi-gengsian semata karena kepongahan dan kehumawaan.
Sekali khianat maka dapat dipastikan akan melakukan pengkhhianatan berikutnya, karena perilaku pengkhianat itu adalah karakter. Maka itu, mulai dari lingkungan keluarga -- yang harus dan wajib menjaga dan mengunggulkan sikap setia dan cinta kasih -- tidak boleh sedikitpun ada benih pengkhianatan yang boleh berkecambah di dalam lingkungan keluarga. Begitu juga dalam lingkaran bisnis, organisasi politik atau semacam organisasi perjuangan yang mengedepankan idealisme, harus dan wajib diseterilkan dari nuansa pengkhianatan, karena bagi siapapun yang merasa dikhianati itu sungguh sangat menyakitkan. Padahal perlkuan pengkinatanan yang dialami oleh seorang pengkhianat pun, juga pasti dirasakan sangat menyakitkan hatinya.
Jadi pengkhianatan akan tetap dikakujan oleh seorang yang sudah memiliki tabi'at ataujatakter untuk berkhianat, ketika melihat peluang dan keuntungan yang menggoda birahi keserakahannya yang liar tidak terkendali itu untuk tetap melakukan pengkhianatan, kendati sang pengkhianat itu sendiri akan sangat mengutuk dan melakukan sumpah serapah, katika dirinya sendiri yang dikhianati. Maka itu sungguh unik dan menarik menyimak perilaku pengkhianat yang tetap memiliki rasa sensitivitas berapa sakit dan perihnya ketika harus menghadapi pengkhianatan yang dilakukan seseorang terhadap diri kita. Apalagi terhadap mereka yang sepatutnya memberikan kesetiaan dengan sepenuh hati. Banten, 14 Maret 2026 (SERANG)
