Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jacob Ereste : Berbahagialah Anda Masih Bisa Pulang Mudik ke Kampung Halaman

Jumat, 20 Maret 2026 | 10.59 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-20T03:59:22Z

 





kontakpublik.id, SERANG--Tradisi pulang mudik yang telah menjadi semacam budaya warga masyarakat Indonesia untuk merayakan hari-hari tertentu seperti lebaran maupun hari raya Natal dan tahun baru bersama sanak keluarga, famili dan gadai taulan lainnya, sungguh baik secara ekonomi, karena peredaran uang dan Rida ekonomi akan menebar nerata ke berbagai pelosok Indonesia yang sebelumnya -- pada hari biasa -- nyaris tidak terjamah dan tidak merata pendistribusinya pada hari-hari biasa, jika tak ada momentum Lebaran atau perayaan Natal bersama keluarga di kampung halaman.


Kecuali itu, dalam perspektif budaya, acara pulang mudik membuktikan bahwa keterikakan spiritual maupun emosional dari masyarakat urban di perkotaan dengan sahabat, kerabat serta keluarga yang masih ada di kampung halaman. Artinya, akar budaya dari warga masyarakat yang merasa memiliki nilai tambah dari acara mudik ini masih terpelihara, dan belum sepenuhnya tercerabut dari akar budaya tempat asal.


Karena itu, berbahagialah bagi siapa saja yang masih menjaga dan memiliki tradisi mudik, meski acapkali dalam kondisi yang agak terpaksa, lantaran tidak cukup mempunyai dana ekstra untuk memenuhi segenap hasrat selama mudik dan hendak berbagi untuk banyak hal -- tak hanya sekedar finansial atau semacam buah tangah -- untuk semua anggota keluarga, saudara dan sahabat yang masih setia menunggu kampung halaman hingga tidak kosong dan merana ditinggal oleh semua warga merantau ke kota, atau ke daerah lain yang bisa memberi banyak peluang untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih baik dan membahagiakn. Tidak hanya dalam arti finansial, tetapi juga untuk hal-hal yang bermakna dan bernilai spiritual. 


Apalagi momentum untuk pulang mudik ke kampung halaman tidak semua warga dapat melakukannya lantaran berbagai alasan, mulai dari keterbatasan dana, hingga hingga yang diabggap tidak tepat jingga alasan lain yang memang belum bisa dikakukan untuk menikmati acara pulang kampung yang sangat mengesankan dan membahagiakan, tentu akan sangat  menyenangkan,  karena bisa mengenang sejumlah nostalgia lama yang belum lapuk dari dalam ingatan. Maka itu, kesempatan pulang mudik ke kampung halaman yang tepat waktunya -- namun tidak bisa dilakukan ketika itu juga -- tak membuat kecewa dan nelangsa. Maj itu perlu disikapi dengan cara yang bijak  agar sampai berkembang liar hingga bisa merusak suasana menhjadi semakin runyam.


Setidaknya, kesempatan untuk mudik pada kesempatan ini yang tertunda, dapat dipahami tidak lebih malang dan tragis dari mereka yang memiliki cukup bekal secara finansial maupun spiritual, namun realitasnya tidak lagi punya kampung halaman tempat asal berasal atau tempat kelahiran. Karena yang tidak lagi ada mungkin bukan hanya kampung halaman, tapi sanak famili dan heluarga lainnya susah tiada. Jika masih ada yang tersisa, entah dimana sekarang keberadaan mereka. Jadi, yabg tersisa sekedar kenangan masa silam saja yang tudak lagi bisa dikonfirmasikan narasinya kepada siapa pun. Jadi, berbahagialah setiap orang yang masih bisa pulang mudik ke kampung halaman. Karena tidak sedikit disntara sejumlah masyarakat urban -- rak hanya di perkitaan, tapi juga yang merantau ke daerah lain, kini tak lagi memiliki aia-apa termasuk kampung halaman tempat asal dan tempat kelahiran.Banten, 19 Maret 2026. (Red)

×
Berita Terbaru Update