kontakpublik.id, TELUK NAGA--Saya sungguh terkejut, sedih dan terpana membaca berita meninghalnya sahabat aktivis Padapotan Lubis yang sejak awal sudah saya kenal sejak reformasi 1998 -- sekitar tahun 2000 -- dia sangat akrab bersama Monalisa Misjan yang juga lebih jago berorasi pada masa itu. Karenanya Padapotan Lubis dan Monalisa Misjan kerap menyambangi Posko kami di Klinik Hukum Merdeka besutan Benny Akrbar Fatah yang telah terlebih dahulu bersemayam di surga beberapa tahun silam.
Itulah kenangan indah bersama Padapotan Lubis yang memiliki pemikiran tajam dan radikal tentang berbagai hal yang acap menjadi topik perbincangan antara kami dalam berbagai kesempatan. Dalam budaya diskusi yang terjadi dengan Padapotan Lubis, aku memperoleh kesan dia satu diantara sedikit sahabat yang patuh dan taat untuk mendengar pendapat hingga argumen setiap lawan bicaranya. Sehingga aku sendiri semakin diyakinkan bahwa untuk lebih banyak belajar mendengar itu merupajan bagian dari prasyarat utama dari budaya diskusi yang sehat. Kecuali itu -- sebagai penulis -- aku semakin percaya bahwa kemampuan mendengar itu akan lebih baik daripada kemampuan berbicara. Apalagi ditengah budaya untuk menyampaikan pendapat secara lisan semakin ketat dan penuh jebakan yang dipasang untuk mengkererangkeng siapa saja yang dianggap kritis dan vokal menikamkan kritik ke berbagai arah pada yang merasa memiliki otoritas kekuasaan untuk mencegah tindakan yang dilakukan dengan semena-mena terhadap siapa saja yang dianggap semacam duri atau batu sandung untuk bersikap serta bertindak sesuka hatinya sendiri.
Pososi saya dan Padapotan Lubis -- serta sejumlah kawan aktivis pergerakan lainnya -- yang acap dikatakan banyak orang berada pada pihak oposisi dari pemerintah. Padahal, sikap kritis dan keritik yang kami lakukan sepenuhnya hanya untuk mengaksentuasikan suara rakyat yang mendambakan perbaikan, baik dalam kerangka struktur maupun pada wujud kulturnya yang nyata dari pihak manapun, utamanya dari bilik pemerintah berikut aparatur pelaksananya di tingkat lapangan.
Kisaran tahun 2005 dan seterusnya, Padapotan Lubis lebih dikenal sebagai aktivis Guntir 49. Karena seakan dia telah menjadi penghuni tetap dari Posko kaum akrivis perherakan yang ada di Jalarta. Karena lokasi dari sebuah rumah mewah di Jl. Guntur No. 49 Jakarta ini yang diwakafkan oleh seorang tokoh Partai Sosialis Indonesia: Subadio Sastrosatomo - Mr. Hj. Rsden Ayu Maria Ulfah Santoso, diberi lebel "Rumah Perjuangan Rakyat", karena memang diperuntukkan bagi aktivis untuk bergiat serta melakukan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan perjuangan untuk rakyat.
Di tempat inilah -- Padapotan Lubis lebih terkesan nyaman dan dikenal sebagai pengelola gedung yang pada saat awalnya penuh dengan koleksi buku yang berklas dan sangat berkualitas, untamanya untuk memperkaya serta memlerluas wawasan dan pengetahuan politik tidak hanya sebatas pra kemerdekaan Indonesia semata. Agaknya, di tempat inilah pemikiran dan pandangan politik serta kebangsaan Padapotan Lubis semakin tajam terasah dan matang. Setidaknya, sikap fanatisme Padapotan Lubis -- jika terlibat atau dilibatkan dalam pelaksanaan suatu acara, selalu ingin melantunkan lagu "Padamu Negri" karya Raden Kusbini telah menjadi nyanyian wajib yang ditetapkan oleh pemerintah pada tahun 1960, namun acap kali diabaikan oleh bamyak orang.
Kecuali itu, sikap dam sifat Padapotan Lubis yang selalu mengesankan tulus dan ikhlas melayani semua keperluan para aktivis yang hendak menggunakan "Rumah Kedaukatan Rakyat" inilah yang kempososikan kiprahnya menjadi semakin meluas dan jembar memiliki jaringan hampir di seluruh pelosok tanah air. Monimal, bagi psra aktivis dari berbagai daerah yang datang ke Jakarta, dapat dipastikan ketika itu --antara tahun 2003 hingga 2015 -- pasti akan singgah di Guntur 49 -- sebagai tempat yang menjadi ikon bagi kalangan aktivis di tanah air -- hingga layak dan identik uuntuk disebut sebagai "maskas besar" kaum pergerakan di Indonesia.
Inilah tampaknya yang menertautkan keakraban dirinya dengan aktivis senior Prof. Dr. Sti Bintang Pamungkas, hingga terkesan mendapat tempat tersendiri dibanding aktivis yang lain. Bahkan pada babak berikutnya, Padapotan Lubis relatif mendapat tempat yang cukup istimewa di ProDem Indonesia besutan dokter Hariman Siregar yang terkenal sebagai aktivis mahasiswa sejak aksi besar 15 Januari 1974 -- hingga disebur Malari (Malapetaka 15 Januari 1974) yang tetap eksis dengan beragam kegiatannya melakukan pencerahan untuk generasi muda di Indonesia, wabil khusus bagi kalangan mahasiswa Indonesia sampai sekarang.
Berita wafatnya aktivis Padapotan Lubis yang saya peroleh Kamis siang, 5 Februari 2026 dari Muhammad Nur Lapong yang memposting lewat whatsapp -- sungguh tidak lengkap infonya -- hingga mengungkit emosi kemarahan ala aktivis yang sudah terjalin dalam rasa dan pirada ikatan persaudaraan yang kental -- melalui pertanyaan yang saya ajukan meliputi 5W + 1H. Sebab hasrat untuk ikut melayat dan memberi pengjormatan terakhir terhadap segenap dedikasi dan kipranya Padapotan Lubis sebagai aktivis yang terbilang tangguh, tak hanya patut dan pantas untuk dilakukan, tapi juga perlu dikukuhkan sebagai bagian dari budaya solidaritas pertemanan, persaudaraan, setidaknya begitulah perhatian maupun penghormatan minimal yang harus dan wajib untuk diekspresikan oleh sesama aktivis, kalau pun kelak pada acara 40 harinya tidak dapat diterbitkan sebuah buku kenangan yang ditulis bersama oleh masing-masing aktivis yang merasa memiliki kenangan indah yang berkesan untuk meredakan rasa sesal -- atau kesal -- semasa interaktif bersama almarhum yang terlanjur menjadi kenangan.
Paparan ini pun boleh disebut sebagai ekpresi pribadi yang perlu diingkapkan, sebagai bagian dari pertanda penghargaan serta penghormatan pada almarhum yang telah mengisi celah kosong dalam membela kepentingan rakyat. Minimal dalam narasi serupa inilah, hakekat kepahlawanan bagi seorang yang bergelar sebagai kaum pergerakan, jauh lebih nyaman dan tenteram, meski tidak disemayamkan di taman makam aktivis pejuang sejati untuk rakyat.
Sifat dan sikap kesederhanaan Padapotan Lubis tidak hanya tercermin dari rokok lintingannya yang terasa berat dan keras, tapi juga dari tutur katanya yang tak pernah hendak menggunjingkan orang lain. Kecuali hanya untuk musuh politik yang nyata berseberangan secara ideologis dan mengancam rakyat. Saat terakhir kali jumpa, dia mengakui telah menyisih untuk tinggal di Karawang bersama anak dan istrinya. Nyaris setahun rasa kangen ingin jumpa dengan aktivis yang memiliki kesedernaan yang khas ini, pun tak lagi penah mendapatkan momen untuk bersua. Padahal biasanya ia selalu hadir pada berbagai acara yang dikakukan oleh kaum pergerakan. Termasuk di forum buruh maupun mahasiswa. Dan rasa kehilangan seorang sahabat setia yang sangat bersahaja, sungguh terasa dan sangat terkesan seperti pengalaman spiritual yang tidak mungkin terelakkan. Teluk Naga, 5 Februari 2026 (red)
