Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jacob Ereste : Cermin Diri Dari Kaca Benggala Tentang Kemiskinan dan Kebodohan Kita

Minggu, 01 Februari 2026 | 06.29 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-31T23:29:25Z





kontakpublik.id, SERANG--Orang bodoh yang kaya itu ada, seperti orang miskin yang pintar. Keduanya memiliki kenaikan tersendiri. Minimal bagi orang bodoh yang kaya tidak bisa memanfaatkan kekayaannya secara maksimal untuk hal-hal yang baik untuk dirinya sendiri apalagi untuk orang lain. Termasuk untuk saudaranya yang sangat memerlukan sekali bantuan dari dirinya yang cukup berkelumpahan harta benda ini.

Orang kaya yang bodoh tampak dari kebingungan atau ketidakmampuannya memanfaatkan hanya kekayaannya itu secara maksimal hingga dapat lebih banyak mendatangkan manfaat tidak hanya untuk dirinya tetapi juga bagi orang lain. Karena itu ada orang yang kondisi ekonominya biasa-biasa saja -- tidak berlebih -- bisa memiliki sejumlah anak asuh atau menyantuni secara rutin dan ajek anak yatim piatu dengan penuh keikhlasan tanpa pamrih.

Sebaliknya, ada orang yang kaya dengan harta dan uang yang berlimpah ruah, sekedar untuk mentraktir minum kopi saja bakhilnya minta ampun. Hingga ada istilah yang muncul dari sifat dan sikap meditnya orang setengah mati ini acap disebut sisa makanannya yang ada pun enggan dia berikan untuk orang kain. Karena dia anggap perlu untuk disimpan buat makan dirinya sendiri nanti ketika lapar kembali. Kendati pada akhirnya makanan sisa itu memburuk, dia akan merasa tetap lebih baik dan puas untuk membiarkannya seperti itu.

Yang menarik tentu saja ada orang kaya yang tidak pelit, tidak bodoh tidak memiliki ambisius untuk mendongkrak nama dan reputasinya dengan mengeksploitasi kekayaan yang dimilikinya dengan kemiskinan orang lain. Sehingga apa yang dia berikan dilakukan dengan penuh ikhlas dan semata-mata untuk berbuat baik dengan cara memberi sesuatu yang dia anggap sangat diperlukan oleh orang lain itu, tampa pernah diminta oleh siapapun. 

Sikap empati dan kebaikan serupa ini pasti dilakukan dengan sepenuh kesadaran tanpa pernah berharap adanya imbalan baik dalam bentuk apapun. Perlakuan seperti ini tidak sedikit terjadi di kalangan aktivis yang sangat memahami beratnya perjuangan atas dasar yang bertumpu pada idealisme, solidaritas, kepedulian sosial serta rasa senasib dan sepenanggungan untuk suatu cita-cita bersama membangun kondisi dan situasi yang kebih baik.

Meski begitu, tetap saja ada sifat dan sikap yang sebaliknya, justru hanya ingin memperkuda atau menjadikan teman seperjuangan itu sebagai kuda tunggangan belaka. Selebihnya, bisa dia lupakan seperti angin lalu yang tidak lagi perlu untuk dikenang, karena dia cuma mampu memahi bahwa masa lalu itu tak lagi perlu untuk membangun masa depan yang kebih baik dan lebih indah untuk dikenang pada masa berikutnya.

Artinya, hakikat dari ungkapan untuk tidak melupakan sejarah -- jas merah -- hanya dipahami sebagai selogan belaka. Bukan untuk membangun kesadaran historis untuk hari ini dan hari esok yang  lebih indah dan kebih romantis untuk selaku dikenang, ketika suatu masa telah berlalu untuk dikenang kembali bahwa kita pernah melintas bersana pada masa itu dahulu.

Namun yang sulit untuk didedkripsikan adalah sosok seorang yang muskin, tidak cukup cerdas apalagi terus dibarengi dengan sikapnya yang kurang bijak. Maka untuk memetakan posisinya yang terbaik bagi diri kita pun, acap kali sering  merepotkan. Namun toh, semua itu tetap kembali kepada kearifan dan kebijakan dari sikap san sifat kita yang sesungguhnya. Begitulah sosok wajah kita yang tak mungkin dimanipulasi oleh kaca benggala. Banten, 31 Januari 2026 (red)
×
Berita Terbaru Update