Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jacob Ereste : Sikap Penghianat Akan Tercatat Dalam Ingatan Sejarah dan Terus Jadi Kutukan Sampai Ke Liang Kubur

Senin, 12 Januari 2026 | 05.31 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-14T01:11:19Z

 



kontakpublik.id, SERANG--Perseteruan itu dimenangkan oleh si penipu dari pengkhianat yang kini menjadi tontonan rakyat si dunia, dan mungkin juga mereka yang sudah ada di akherat. Sebab, konon cerita seorang Stand up komedi, para malaikat pun banyak yang terkejut hingga merasa perlu untuk beristifar secara massal. Kisah perseteruan yang cukup sengit dan sempat membuat heboh sejagat negeri ini, seakan menjadi bagian dari skenario mengalihkan perhatian rakyat miskin yang tengah dilanda bencana skibat ulah manusia, bukan hanya seperti yang bsru saja terjadi dan masih terus berlangsung sampai sekarang bencana itu belum sepenuhnya bisa diatasi bersama rakyat -- karena menolak bantuan dari negara lain -- mska dera dan derita yang dapat diatasi atas dasar simoati dan solidaritas kemanusiaan pun jadi  terhambat. Setidaknya empati itu sendiri tidak bisa berkembang lebih maksimal dalam menopang peradaban baru  manusia di peralihan siklus pada setiap tujuh abad ke-4 sekarang ini.


Kemengan penipu atau si pembohong itu melawan sang  pengkhianat sungguh sangat mungkin merupakan bagian dari fenomena jaman yang tengah terguncang akibat benturan peradaban yang terus mencari bentuk dan modelnya yang paling ngetrend di era milineal yang  terus melompat seperti kuda binal yang sulit dijinakkan. Sejumlah korban pun bergelimpangan justru dari luar pusat gelanggang pertempuran. Dalam konflik serupa inilah dapat dipahami bila dampak dari suatu peristiwa bisa lebih dakhsyat dari kejadian yang terjadi pada pusat inti dari malapetaka bermula. Sebab berbagai peristiwa lain ikut tenggelam seperti naskah buku yang telah siap untuk dicetak, tapi kini entah dimana keberadaannya.


Peristiwa seperti ini persis yang sedang melanda Indonesia hari ini. Sejumlah kasus koripsi dan penyelewengan jadi hilang, karena ditindih oleh persoalan yang lebih sensasi, kendati tidak lebih urgen untuk menjadi pokok perhatian, seperti janji untuk menekan harga kebutuhah pokok yang semakin sulit dijangkau oleh kemampuan kondisi ekonomi rakyat yang terus terhimpit.


Tampaknya, itulah sebabnya jauh sebelum malapeta banyak terjadi di Indonesia, sudah muncul sejumlah gagasan untuk melakukan acara do'a bersama yang berskala nasional, pertobatan nasuha nasional, yaitu kesadaran pengakuan pada kesalahan dan kekeliruan dalam menentukan pilihan dan langkah yang salah. Esensi dari taubat nasuha itu sendiri bukan hanya sekedar pengakuan kesakahan dan kekeliruan dalam menentukan pulihan hidup yang harus senantiasa berpegang pada etika, moral dan akhlak mulia manusia sebagai khalifatullah di muka bumi, tetapi yang lebih penting dari taubat nasuhu itu adalah sumpah dan janji untuk tidak lagi pernah mengulangi pilihan dan perilaku yang salah itu kelak di kemudian hari. Dan tobat nasuha itu sendiri merupakan kesadaran rasa terdalam dari kerendahan hati untuk memohon ampun atas kesalahan yang telah dikakukan -- sadar atau tidak sadar saat melakukan kesalahan itu -- merupakan permohonan ampun agar tidak mendapat ganjaran bala dab azab yang bisa ditetima lebih pedih dan menyakitkan dari mereka yang  terdampak oleh perbuatan tengil itu, seperti dera dsn derita saudara kita di berbagai daerah yang terkena bencana akibat ulah manusia.


Demikian juga pertobatan nasional dalam bentuk do'a bersama, daoat dipahami sebagai keinginan dan upaya memohon ampun kepada Tuhan sang pencipta langit dan bumi agar tidak lagi menurunkan angkara murkanya akibat ulah keculasan yabg mungkin hanya dikakujan oleh segelintir orang yang ingin hidup lebih enak dan berkuasa tanpa pernah menimbang hak dan kepentingan orang kain, lantaran sijap dan sifat perbuatannya yang senena-mena itu.


Para pelaku yang membuat kerusakan di bumi --0 dengan mengumbar konsesi hutan dan lahan serta memberi kebebasan menggunduli hutan lalu melalukan pembiaran karena tekah mendapat imbalan dari pekerjaan terkutuk itu, pun pasti akan menerina ganjaran yang lebih pedih. Sebab harta benda dan kekayaan yang mereka hasilkan dari  penjarahan itu, pasti tidak akan menjadi berkah -- justru sebaliknya akan menjadi racun -- bagi dirinya sendiri dan segenap anggota keluarganya yang menikmati hasil dari pejerjaan yang merampas hak orang lain. Seakan--akan senua isi dunia ini adalah milik nenek moyang mereka sendiri, sehingga hak milik nenek moyang orang yang lain itu tidak ada di dalam benak kepalanya yang penuh kerakusan dan ketamakan. 


Ketamakan dan ketakusan manusia yang bejat etika dan moralnya itu, tiada kecuali terhadap harta dan benda semsta, tapi juga pada kekuasaan agar dapat mengangkangi kepentingan serta hak orang lain dengan sekejendak.


Begitulah sifat dan sikap khianat yang sangat menyakitkan itu. Sebab bukan hanya ucap tutur katanya saja yang telah dijadikan tipu daya dan pencitraan semu bagi dirinya, tapi pembodohan yang dia lakukan dengan menyitir fatwa dan petuah dari langit, telah menyihir kesadaran banyak orang menjadi terpesona. Kendati pada akhirnya dapat diketahui juga bahwa tesis yang pernah dia tulis itu pun palsu,  tidak sesuai dengan perilaku yang terjadi, seperti melakukan transaksi menjual diri yang sedungguhnya lebih hina dari para pelacur yang begitu rendah dan hina itu, pengkhianat jelas tidak lagi memiliki martabat, kecuali harta dan posisi sfar bisa merasa lebih nyaman kendati dalam realitas semuanya semu belaka.


Agaknya, begitulah kelak azab baginya ypasti akan mereka terima juga sebagai konsekuensi dari sikap dan sifat serta  perilaku degil yang mereka lakukan, hanya sekedar untuk dinikmati surga dunia yang mengabaikan surga di langit. Karena itu azab dan bala pantas mereka nikmati juga sampai ke liang lahat. Setidaknya, ingatan setiap orang akan terus mencatat, agar kehadian serupa tidak sampai terhadi lagi, setidaknya bagi snak, istri dan keluarga kita sebdiri. Sebab kita tak hendak menjadi olok-olok dan kutukan  sepanjang sejarah secara turun temurun.


Sifat dan sikap khianat itu -- meski tidak secara langsung merugikan orang lain -- tapi dia menjadi semacam pandemi yang bisa menular -- sehibgga dapat mempengaruhi orang lain untuk tega melakukan juga  pengkhianatan dalam cara yang sama, meskipun dalam bentuk dan modus yang lain. Artinya, secara etika dan moral sungguh sangat buruk dan patut dikutuk Banten, 11 Januari 2026 (red)

×
Berita Terbaru Update