Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jacob Ereste : Sifat Oportunistik dan Pengkhianatan Dalam Budaya Materialisme

Senin, 12 Januari 2026 | 21.44 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-12T14:44:54Z

 




kontakpublik.id, SERANG--Perbedaan antara sikap oportumis dan khianat  mungkin analoginya seperti bebek dan angsa sejenis unggas yang punya kemampuan nyosor, karena memang tak punya kemampuan lain misalnya memanjat untuk memetik buah yang matang dan mengkal sekedar untuk mengisi perut yang sesungguhnya tidak mengenal hakekat puasa untuk dapat mengendalikan hawa nafsu yang selalu menjadi bagian dari topik perbincangan dengan pasir bersandar pada ayat-ayat langit, sehingga tidak sungguh-sungguh bisa membumi.


Oportunis adalah sikap yang memanfaatkan kesempatan dan situasi untuk mendapatkan  keuntungan pribadi, tanpa perduli pada prinsip etika dan moral hingga abai pada kepentingan orang lain. Karena itu, sikap oportinis dianggap oleh banyak sangat menjijikkan, kendati orang lain itu sulit dikatakan ikut dirugikan oleh ulah sang oportunis tersebut. Namun dalam konteks etika dan moral dia bisa menjadi wabah penyakit yang menebar dalam masyarakat dan memprovokasi orang lain untuk bersikap sama, tidak beretika, tidak bermoral dan tidak mendorong masyarakat luas untuk menjaga akhkak mulia manusia yang memiliki harga diri dan martabat sebagai khalifatullah di bumi.


Oleh karena itu, sikap oportunis itu jelas dimiliki oleh manusia yang sesungguhnya tidak mempunyai prinsip yang kuat, karena etika dam moral yang dimilikinya sungguh rapuh. Kendati dalam keseharian hidupnya selalu dihiasi oleh ayat-ayat serta firman yang diturunkan dari langit, lantaran semua itu sekedar kamuflase belaka untuk memperdaya manusia yang lain. 


Perilaku orang yang oportunis itu selalu terkesan teguh, padahal sesungguhnya dia pun pandai menyembunyikan sikapnya yang selalu berubah-ubah, menyesuaikan diri dengan peluang dan kesempatan yang bisa dimanfaatkan untuk menguntungkan diri sendiri, meski harus kehilangan harga diri serta cemooh hingga hujatan yang sudah siap dia tanggung sebagai pertaruhannya.


Oleh karena itu, sikap manusia yang oportunis tidak mungkin dapat dijadikan sosok pemimpin, sebab dia akan tega melakukan apa saja yang bisa membuat kawan dekatnya menjadi celaka, tanpa pernah merasa telah berbuat dosa. Karena sikap dam sifat manusia yang oportunustis biasanya hanya mementingkan dirinya sendiri daripada memikirkan kepentingan orang lain atau rakyat yang berada di sekitarnya. Karena itu tidak ada istilah kesetiaan, seperti pameo dalam politik bahwa sesungguhnya tidak ada kamusnya untuk kawan yang sejati, sebab yang di dalam batok kepalanya hanyalah  kepentingan dan persekongkokan untuk mempertahankan kekuasaan atau mengeruk keuntungan dalam bentuk apa saja yang memungkinkan dirinya bisa lebih perkasa dan berkuasa dari orang lain. Itulah sebabnya pengkhianatan pun bisa dilakukan oleh mereka yang memang memiliki potensi oportunistik. Karena kedua sikap ini -- oportunis dab khianat -- dimiliki okeh mereka yang memang tidak memiliki sikap kesetiaan, tidak juga konsisten dan mempunyai komitmen yang bisa dijadikan pegangan oleh siapa pun.


Bisanya pun sikap oportunis dan khianat ini erat terkait dengan hal-hal yang bersifat mareri, kekayaan, kemewahan hingga tak jarang akan tampil dalam wajah yang serba palsu, imitasi dan tidak asli. Oleh karena itu pun tidak bisa diharap akan bertanggung jawab terhadap suatu masalah ketika garus dihadapi secara bersama. Sebab yang ada di benarnya hanyalah kalkukasi untuk rugi yang lebih dominan ditakar dalam bentuk materialistik sifatnya, atau penciptaan untuk memperkuat kekuasaan yang sudah ada dalam genggamannya. 


Jadi sikap oportunistik dan Pengkhianatan Dalam Budaya Materialisme yang semakin membooming sifatnya di negeri kita sekarang ini, perilku busuk seperti itu telah menjadi pilihan sikap pilihan sebagai akibat dari dendam sosial terhadap kemiskinan yang selalu menjadi bulan-bulanan dalam kebijakan yang justru memeliharanya menjadi proyek untuk mendulang keuntungan politik, ekonomi dan status sosial yang juga telah menjadi bagian dari kemewahan yang bisa menjadi kebanggaan dan mendongkrak pencitraan yang telah danggap menjadi bagian terpenting dalam kehidupan sehari-hari. 


Inilah realitas yang nyata dalam kehidupan kita di sehari-hari di negeri ini. Banten, 11 Januari 2026 (red)

×
Berita Terbaru Update