Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jacob Ereste : Musuh Yang Jujur Tetap Lebih Baik Dari Seorang Kawan Yang Munafik

Jumat, 30 Januari 2026 | 08.31 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-30T01:31:28Z

 



kontakpublik.id, SERANG--Kata seorang filsuf,  seorang musuh yang jujur lebih baik dari seorang kawan yang munafik, hanya ingin mengatakan hal-hal yang menyenangkan hati, tetapi tidak benar dan tidak onyektif, karena hanya ingin mendapatkan sesuatu yang juga menyenangkan dirinya. Minimal dianggap sebagai pengagum atau pemuja. Karena itu, orang seperti ini -- mumafik -- dan lebih membahayakan dari pada musuh yang menyatakan secara terbuka tentang diri kita yang terburuk dekalipun. Sebab dengan begitu -- dapat menguji sikap bijak kita untuk mengkoreksi diri agar tidak merasa lebih besar dari realitas yang sesungguhnya.


Sikap manusia munafik itu -- karena para dasarnya hanya ingin mendapat keuntungan atau agar bisa enak bagi dirinya sendiri -- tanpa perduli dengan kepentingan orang lain. Maka apapun akibatnya untuk kita sebagai kawan seperjuangan -- tidak pernah akan ada dalam kalkulasi di benaknta. Apapagi akan ada di dalam hati nuraninya. Karena itu, potensi dari tipeligi orang munafik sangat besar akan berkhianat dari dalam satu wadah perjuang -- apalagi di habitat politik -- sungguh sangat besar untuk dia lalukan. Padahal, dalam satu organisasi atau kelompok para pejuang yang beranjak dari kesamaan ide atau tujuan dan keyakinan yang sama -- ternasuk organisasi maupun kelompok  yang berbasis agama -- sungguh tidak sedikit bukti yang bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk dari dalam lingkungan keluarga seperti mengingkari ikrar untuk hidup semati saat ijab kabul sebagai suami-istri waktu akad dari pernikahan dilakukan.


Pilihan sikap untuk berpisah atau bercerai dari pasangan yang pernah mengucapkan sumpah janji yang sama untuk hidup semati ini dahulu,  biasanya terjadi akibat sikap yang egoistis yang dilatarbelakangi oleh kebutuhan materi yang tidak tercukupi atau karena pemborosan untuk hal-hal yang tidak prinsipil dan tidak perlu sifatnya. Sehingga satu pihak merasa tertekan karena idealisme yang hendak dibangun tidak menemukan titik kesepahaman, sehingga satu pihak merasa tidak lagi dapat "seideologi" dengan pihak lain, maka pilihan sikap untuk berpisah dianggap sebagai pilihan terbaik untuk dilakukan. Meskipun pada dasarnya pilihan perpisahan itu acap kali tidak akan pernah memperoleh kondisi dan situasi yang lebih baik dari keadaan sebelumnya.


Dari pemahaman dan pengertian serupa inilah kebetsamaan dalam konteks organisasi maupun organisasi dalam lingkup keluarga -- sebagai suami-istri -- perlu disuburkan sekaligus dipelihara dalam nuansa dan suasana spiritual untuk menjaga etika, moral dan akhlak mulia dalam hakekat kemuliaan manusia sebagai makhluk Tuhan yang dibekali fitrah oleh Tuhan sehingga menyandang kehormatan sebagai khalifatullah di muka bumi. Artinya, tidak seorang pun -- sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling istimewa dari makhluk-Nya yang lain ini -- sebagai manusia pembawa bekal rachmatan lil alamin -- sungguh mempunyai potensi spiritual yang dapat dikembangkan sampai mendekat kehariban Tuhan yang paling substansial dari harkat dan martabat kemanusiaan manusia sebagai wakil Tuhan di bumi. Sehingga kalkulasi untung-rugi dalam laku spiritual dalam bentuk material tidak akan oernah ada, karena semua telah melebur dalam bentuk serta wujud spiritual yang sakral --   dengan ekspresi keikhlasan, kejujuran serta rendah hati yang ugahari untuk selalu berada disisi Tuhan.


Sungguh, betapa penting dan besarnya nilai kejujuran yang berada di bilik musus sekalipun, dibanding kemunafikan dari seorang sahabat dan kerabat dalam satu komunitas atau keluarga yang akan sangat.menebtukan dan mempengaruhi tata kehidupan pada masa berikutnya. Banten, 28 Januari 2026 (red)

×
Berita Terbaru Update