Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jacob Ereste : Bencana Akibat Ulah Kerakusan dan Ketamakan Manusia Telah Merusak Tata Kehidupan Harnoni Alam Lingkungan

Kamis, 01 Januari 2026 | 10.39 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-01T03:39:27Z

 




kontakpublik.id, SERANG--Perusahaan perkebunanan di Pulau Jawa setidaknya yang terpantau oleh Atlantika Institut Nusanta, setidaknya tercatat PT. Perkebunan Nusantara I di Jawa Tengah, dan PT. Perkebunan Nusantara VIII, di Jawa Barat,  PT .Gunung Sari Hijau Enam Tiga, di Jawa Barat, PT. Havea Indonesia kebun Sawit di Jawa Barat, PT. Kapol Antar Nusa mengelola kebun teh, kopi dan sayuran di Jawa Barat, PT. Rejo Sari Bumi mengelola kebun cengkeh, pala dan ternak di Jawa Barat. Semua perkebunan ini merupakan bagian dari PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) sevuah badan usaha milik negara (BUMN) yang terbilang aman dan nyaman, relatif tidak menimbulkan masalah bagi warga masyarakat sekitarnya.


Lalu perusahaan perkebunan di Pulau Sumatra yang jauh lebih banyak mengelola kebun kelapa sawit, karet, teh, kopi, kakao, tebu yang lebih dominan berada di Simatra Utara dan Sumatra Barat betada di bawah PT. Perkebunan Nusantara I, PT. Nusantara VI di Jambi,  PT. Asian Agri  di Riua dan Jambi, Wilmar Group di Sumatra Utara,  Sinar Mm as Group  di Sunatra Utara dan Riau, PT. Astra Agro Lestati Tbk di Sumatra Barat dan Jambi. PT. London Sunatra Indonesia Tbk di Sunatra Utara dan Riau.


Sedangkan perusahaan perkebunan di Pulau Kalimantan mulai dari PT. Perkebunan Nusantara XIII juga mengelola kebun kelapa sawit, karet dan lain-lain di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah  Lalu ada juga PT. Astra Agro Lestari. Tbk yang mengelola kelaoa sawit di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. PT. Samloerna Agro kelaoa sawit di Kalimantan Barat. PT. Wilmar Nabati Indonesia juga kelaoa sawit di Kalimantan Tengah. PT. Golden Agri Resources kelapa sawit di Kalimantan Barat. PT. Dharma Satya Nusantara Tbk kelapa sawit di Kalimantan Tengah. PT. Tunas Baru Lampung Tbk juga kelapa sawit di Kalimantan Barat.


Sedangkan PT. Perkebunan Nusantara XVI berada di Papua dan Papua Barat juga mengelola kebun kelapa sawit, karet dan kain-lain. PT. Medco Papya Hihau Industri mengelola kebun kelapa sawit di Papua . PT. Korindo Group,  PT. Tunas Hijau Papua, PT. Sinar Mas Agro Redources and Technology (Smart).


PT. Perkebunan Nusantara XIV meliputi wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara yang juga disanding PT. Astra Agro Lestari Tbk di Sukawesi Tengah,  PT. Sampoerna Agro di Sulawesi Selatan. PT. Wilmar Nabati Indonesia di Sulawesi Tengah. PT. Golden Asri Resources di Sukawesi Selatan, dan PT. Dharma Satya Nusantara Tbk di Sulawesi Tengah.


Padahal dari catatan Atlantika Institut Nusantara,  perusahaan Perkebunan Nusantara VII yang juga mengelola kebun kelapa sawit, karet dan lain-kain juga ada di Lampung Tengah, Lampung Barat dan Lampung Timur yang disanding oleh PT. Tunas Baru Lampung Tbk. PT. Sinar Mas Agro Resources and Technology (Smart),  OT. Astra Agro Lestari Tbk dan PT. Golden Asri Resiurces. Bahkan perkebunan pisang di Indonesia ada di Lampung, Riau,  Sukabumi, Cianjur, PT  Situ Waringin Agro di Karawang Jawa Barat, Demak, Kakimantan Selatan dan Kalimantan Timur, Sukawesi Selatan hingga Maluku dan Papua. Dan kebun plasma nutfah pisang serra pusat konservasi genetik pisang di Indonesia ada di Yogyakarta.


Kebun Raya Bogor di bangun pada tahun 1817 untuk percobaan tanaman tropis semasa kolonial Belanda. Namun sebelumnya perjebunan kopi di Priangan, Jawa Barat pada rahun 1700. Orientadinya sudah bersifat konersial yang dibangun oleh VOC  (Vereenignie Oost Indische Compagnie) alias perusahaan dagang Kolonial Balanda.


Lalu perkebunan tebu di Jawa pada kusaran tahun 1830 hingga termasuk bagian dari program tanam paksa.


Dari dikumen Atlantika Institut Nusantara,  Perusahaan perkebunan di Sumatra semasa penjajahan Belanda di mulai dengan perkebunan tembakau di Deli, Sumatra Utara sekitar tahun 1863 didirikan oleh Jacob Nienhuys. Dan tercatat sebagai perkebunan komersial pertama di Sumatra hingga menjsfi contoh untuk mengembangkan perusahaan perkebunan di daerah lain di Indonesia sampai sekarang.


Perkebunan perseorang mulai berkembang di Indonesia sejak program transmigrasi dilakukan dari Jawa ke Sumatra kisaran tahun 1905, meski lebih bersifat spontan dan belum terorganisir dengan baik. Baru setelah Indonesia Merdeka, tahun 1950 transmigrasi dalam jumlah yang besar dengan tujuan utama untuk mengurangi kepadatan penduduk di Pulau Jawa dan mengembangkan wilayah transmigrasi. Dan transmigrasi dalam skala yang lebih besar dilakukan semasa pemerintah Orde Baru tahun 1969 dengan Program Transmigrasi I dari Pulau Jawa ke Lampung hingga ke daerah lainnya di Indonesia. 


Agaknya, karena itu luas konsesi hutan -- tetutama untuk perusahaan perkebunan yang telah dilakukan pemerintah sekitar 19.037.788 hektar yang dikelola oleh 258 korporasi yang meliputi penebangan kayu atau logging dan kebun kayu. Dalam upaya untuk melakukan kontrol, pemerintah telah mengeluarkan peraturan untuk membatasi luas konsesi maksimal 50.000 hektar. Meski realitasnya ada yang menguasai lahan jauh lebih luas dari pembatasan itu.


Luas konsesi hutan produktif di Indonesia 68.8 juta hektar terdiri dari hutan produksi terbatas (HPT), 26.8 hektar, hutan produksi biasa (HPB) 29,2 juta hektar, hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK) 12,8 hektar. Lalu konsesi logging 19.037.788 hektar yang dikelola 258 korporasi, kebun kayu 11,2  juta hektar dikelola oleh 292 unit perusahaan.


Sedangkan luas konsesi hutan untuk perusahaan pertambangan di Indonesia yang telah dilakukan oemerintah sekitar 1.037.435 hektar diantaranya berada di dalam kawasan hutan.


Perusahaan tambang dengan lahan konsesi terluas adalah PT. Timah Tbk : 487,52 ribu hektar. PT. Aneka Tambang (Antam) Tbk : 454.88 ribu hektar. PT. Adaro Ebergy Indonesia Tbk : 307,85 ribu hektar. PT. Bumi Resources Tbk : 257,24 ribu hektar. PT. Dian Swastika Sentosa Tbk : 164,94 ribu hektar.


Begitulah kesimpulan dari kajian Atlantika Institut Nusanta atas  beban dari ketahanan dan pertahanan bumi Indonesia sungguh terkesan sangat rentan dilanda bencana akibat ulah manusia yang mengekploitasi konsentrasi alam dan lingkungan untuk untuk menjaga keseimbangan dan keselarasan dengan hidup dan penghidupan manusia. Banjir pada masim penghujan, terbakar saat di musim kemarau hingga angin ribut dan marah dengan kemporak-porandakan tatanan kehidupan yang seharusnya bisa nyaman dan tenteram  serta harmoni dengan lingkungan dan alam yang asri, ramah dan menggembirakan hidup berdampingan yang menyenangkan. Banten, 30 Desember 2025 (red)

×
Berita Terbaru Update