kontakpublik.id, SERANG--Moralitas dan integritas diatas kekuasaan. Demikian ungkap Ignatius Kardinal Suharyo, kata Sri Eko Sriyanto Galgendu pada acara pertemuan rutin Senin-Kamis, 30 Maret 2026 di Sekretariat GMRI (Gerakan Moral rekonsiliasi Indonesia) , Jl. Ir. H. Juanda No. 4 A Jakarta Pusat.
Kardinal Suharyo menekankan perlunya seorang pemimpin yang bermoral, bukan sebagai penguasa yang membahayakan bagi kelompok lain.
Seorang pemimpin yang dibutuhkan rakyat adalah yang memiliki kesadaran moral, dan sanggup mengorbankan kepentingan pribadi untuk orang atau rakyat yang dia pimpin, tanpa membedakan antara yang satu dengan yang lain.
Pesan moral untuk sosok seorang pemain yang ideal dari Kardinal Suharto menjadi bahasan penting sahabat dan kerabat spiritual yang ada di GMRI. Setidaknya Doel Duantje yang ikut hadir sambil berbuka puasa sunnat menanggapi pesan moral yang sangat luar biasa itu menandai bahwa kini saatnya seorang pemimpin spuritual yang layak disandang Sri Eko Sriyanto Galgendu untuk tampil karena momentumnya telah memungkinkan seperti yang tergambar dalam perang Iran melawan Israel dan Amerika bersama sejumlah negara pendukung agresi itu untuk menguasai kawasan Timur Tengah. Sementara Iran yang berbasis spiritual yang kuat mampu menghadang ambisi Israel dan Amerika untuk menguasai sejumlah negara di Timur Tengah berikut kekayaan alamnya seperti gas dan minyak yang kini berdampak bagi seluruh negara di dunia termasuk Indonesia.
Poin-poin penting dari pesan moral Kardinal Suharyo ini, pun dapat dipahami bahwa sesungguhnya Kardinal menaruh pengharapan besar kepada Sri Eko Sriyanto Galgendu yang telah diakui secara luas oleh para tokoh dan pemuka agama sebagai Pemimpin Spiritual Nusantara, untuk mengemban amanah berat itu dengan mengoptimalkan peran hati - spiritual leadership - yang sangat dibutuhkan tidak hanya oleh bangsa Indonesia untuk menjadi panutan dan pemandu jalan menuju cahaya yang terang di bumi.
Ketanggugaham Iran menghadapi kedinasan Israel3 bersama Amerika Serikat itu, kelas karena bangsa Iran berbasis pada moral dan mental spiritual yang tangguh. Sehingga karakternya menghadapi serapan Israel bersama dengan Amerika serta antek-anteknya di Kawasan Timur Tengah itu bisa dihadang - bahkan dihalau dari Selat Hormuz. Akibatnya kini dapat dirasakan oleh seluruh negara di dunia yang semakin cemas akan mengalami krisis lantaran tersumbatnya distribusi berbagai keperluan hidup, utamanya gas dan bahan bakar minyak yang bisa memperkeruh kondisi ekonomi yang berlanjut pada politik global serta peranan manusia di muka bumi. Sebab suasana perang sangat mungkin menjadi lebih parah dari kondisi hari ini. Apalagi, bila sampai menyulut api Perang Dunia ke-3, lantaran sejumlah negara yang mulai terbuka berada di pihak Iran bisa srmakin memperkeruh suasana perang jadi meluas dan bertambah buruk.
Pemimpin spiritual - yang menanamkan karakter serta kepribadian yang teguh dan tangguh , merupakan kekuatan Iran Bangsa Iran yang tidak dimiliki oleh Israel dan Amerika Serikat serta sekutunya yang telah menyediakan tempat menjadi pangkalan militer dari Amerika Serikat yang tengah merencanakan babak baru peperangan di daratan dengan mengirim sejumlah pasukan yang telah frustrasi menyaksikan ketangguan Iran mempersiapkan diri di medan peperangan dengan semangat fisabillah.
Artinya, kekalahan pun bagi Iran bukan lagi persoalan, sebab yang terpenting adalah mempertahankan harga diri - fi''il pesengiri atau siri dalam bahasa Bugis - untuk tidak menyerah dari perlakuan zalim yang tidak dibenarkan oleh agama apapun.
Begitulah sosok pemimpin yang dibutuhkan- berbasis spiritual hinggan menjadi panutan bagi rakyat, memiliki kesadaran moral yang tangguh untuk berkorban. Hingga diteladani oleh rakyat dengan kakater yang sama, jihad fisabilillah.
Karena sosok pemimpin spiritual yang diimplementasikan dalam gelar Khomeini dan para Mullah di Iran berakar di dalam diri - jiwa dan bathin- atau inner power seperti pesan moral Kardinal Suharyo hingga menjadi topik diskusi Senin-Kamis GMRI. Karena memang hati yang bersih akan menghasilkan perilaku politik yang baik, melayani. Sehingga sosok seorang pemimpin spiritual akan memberi pencerahan, karena sosok pemimpin spiritual memiliki etika religius.
Figur seorang Gus Dur - yang bekerja dalam pengertisn lahir dan bathin - hingga selaras dengan realitas yang didambakan oleh masyarakat atau rakyat.
Politik Etika, menurut Kardinal Suharyo bukan sekedar agama. Maka itu banyak orang berharap agar politik memiliki dasar spiritualitas yang baik. Bukan sekedar simbol-simbol agama yang dijajakan. Karena seorang pemimpin spiritual harus mengusung nilai-nilai luhur moralitas ke dalam kebijakan publik yang dilakukan. Jadi bukan mengeksploitasi agama untuk kepentingan pribadi atau kelompok.
Jadi, kini saatnya memang pemimpin spuritual - seperti yang memimpin perlawanan perang di Iran - untuk tampil agar dapat menentukan bentuk dari konstruksi peradaban dunia yang perlu ditata dalam komposisi yang harmoni, membahagiakan dan mensejahterakan dalam kebersamaan. Bukan dalam persengketaan yang tidak berkesudahan. Pecenongan, 30 Maret 2026 (red)
