kontakpublik.id, SERANG--Menakar kapasitas olah pikir, olah rasa (batin dan jiwa) serta olah tubuh atau raga, perlu dan penting dilakukan oleh setiap orang agar keseimbangan dalam suasana dan irama hidup dapat harmoni dan sinkron atau seimbang, sehingga tidak perlu terjadi ketimpangan atau an-harmoni yang tidak hanya bisa merusak diri dengan segenap instrumen yang ada di dalam tubuh, tapi juga agar adanya keseimbangan diri dengan jagat raya serta dengan sang pencip agar selaras dan terjaga. Mininal tidak saling mengabaikan antara yang satu dengan yang lain.
Begitulah simbolika dari narasi pesan dari langit di luar, langit di dalam bersatu bersama jiwa. Sehingga ruh dapat berfungsi maksimal merawat batin -- begitu juga sebaliknya -- keseimbangan antara jiwa, raga dan nalar dapat terjaga fungsi dan peranannya bagi diri manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dan mulia.
Dalam usaha menjaga harmoni dan keseimbangan antara tubuh atau raga dengan fungsi dan peran otak untuk berpikir maksimal untuk berproduksi dan tetap baik, perlu diimbangi oleh olah rasa atau batin, supaya jiwa tidak meranggas dan layu tidak memberikan pendistribusian yang maksimal semacam simponi kehidupan yang indah melantunkan suara dan lagu yang selaras dengan irama jagat raya.
Olah raga atau tubuh bisa sehat secara fisik, tapi mungkin tidak dalam pengertian akal bila tidak ikut diasah agar daya analisa menjadi tajam. Namun kedua imstrumen terownting bagi nanysia ini -- olah raga serta olah pikir, belum sempurna bilamana tidak disempurnakan oleh olah bathin atau jiwa yang meliputi segenap sikap empati, kepedulian, solidaritas hingga sentuhan kamusiaan yang penuh kasih dan sayang, sebagai bagian dari anugrah Tuhan yang tidak bisa diabaikan.
Oleh sebab itu tubuh dan pikiran manusia yang sehat tidak cukup untuk memposisikan kemuliaan manusia yang kuat dan sehat secara fisik, cerdas dan brillian secara nalar, manakala jeblok dalam pengertian moral dan mental karena tidak terjaga dari perilaku korup, culas, munafik, khianat, hipokrit, rakus dan tamak serta memiliki sifat dan sikap ego yang tidak terkendali, liar dan buas bahkan zalim dan menindas manusia dan alam -- karena berperilaku buruk -- disebabkan abai pada etika dan budaya serta moral yang bejat akibat merasa lebih kuat dan hebat, bahkan merasa lebih pintar dan cendas lantaran pongah dengan kekuatan fisik serta jenius salam menggunakan otak, namun tidak memiliki etika, moral dan akhlak mulia sebagai khalifah -- wakil Tuhan -- di bumi.
Konsekuensi logis dari keunggulan fisik dan kemampuan daya nalar manusia bisa tersesat dan membahayakan, bila tidak disertai oleh bimbingan kecerdasan dan kemampuan spiritual yang cukup untuk mengimbangi keunggulan fisik dan kepiawaian logika, tanpa dipandu oleh etika dan moral yang terbingkai dalam akhlak manusia sebagai pengemban amanah sunnatullah di bumi. Sebab hasil dari olah raga hanya sekedar untuk kesempurnaan fisik, keahlian dan ketangkawan yang terampil untuk tubuh dan menjaga diri berbagai serangan penyakit atau secara fisik dari musuh yang mengancam.
Demikian juga dengan keunggulan dari olah pikir yang mampu melakukan analisis yang lebih cerdas dan tangkas untuk menentukan pilihan yang jitu, namun rentan dan tersesat tanpa tuntunan dari kecerdasan dan kepekaan bathin yang bernas -- bernilai ilahiah -- yang diusung dan dijaga oleh kemampuan dan ketangguhan spiritualitas yang berkualitas.
Oleh karena itu, olah raga -- fisik -- dan nalar yang unggul dan sehat perlu dan harus dilengkapi dan disempurnakan oleh kecerdasan dan kemampuan serta ketangkasan spiritual yang mampuni dan bisa membimbing kualitas fisik dan kualitas daya nalar agar tak salah dan sesat dalam berbuat dan menentukan untuk segala sesuatu untuk diri sendiri maupun untuk pihak lain, seperti terhadap makhluk hidup serta alam dan lingkungan yang bersifat fisik namun yang berdimensi sosial untuk kemaslahatan hidup bersama di bumi ini. Semua itu sepatutnya dilakukan tanpa membuat kerusakan dan penzalinan dalam arti luas dalam menata hidup dan kehidupan bersama di jagat rata ini. Banten, 6 Maret 2026 (red)
.jpg)