kontakpublik.id, PECENONGAN-- Pada dasarnya setiap manusia itu memiliki potensi spiritual sejak lahir -- sebagai fitrah -- yang dapat dikembangkan dengan pengalaman hidup dan kesadaran yang terpelihara dan terus ditingkatkan kualitasnya melalui berbagai usaha atas kesadaran serta pemahanan bahwa nilai-nilai spiritual itu akan memposisikan manusia sebagai makhluk yang paling mulia dari makhluk Tuhan yang lain.
Spititual sebagai fitrah bawaan yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia -- tidak kepada makhluk Tuhan yang lain -- termasuk Malaikat -- karena spititualitas yang melekat pada manusia dapat menghilang sekaligus dapat berkembang mencapai bilangan yang tidak terhingga mendekati hakekat Tuhan sebagai pencipta dan penguasa jagat raya dan seisinya.
Nilai-nilai spiritualitas manusia dapat merosot -- atau bahkan menghilang sama sekali dari nilai-nilai kemuliaan manusia, karena pengaruh materialisme sehingga manusia kehilangan nilai-nilai spiritual termasuk fitrah dari nilai-nilai kemanusiaannya yang mulia sebagai khalifatullah -- wakil Tuhan -- di bumi. Karena nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas itu pun akan berakhir ketika manusia mati untuk dimasukkan ke liang kubur.
Kualitas nilai spiritual dapat merosot bisa juga disebabkan oleh intensitas perawatan atau pemeliharaan kualitas spiritual yang harus dikembangkan terus-menerus dalam hidup, seperti pepohonan yang dapat bertumbuh mencapai puncak manfaatnya bagi makhluk hidup yang lain. Artinya, spiritualitas itu dapat fipahami sebagai bagian dari ibadah untuk kebaikan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga mendatangkan manfaat bagi orang lain.
Menurunnya kualitas spiritual manusia pun dapat dipengaruhi oleh teknologi. Sehingga manusia lebih tersita waktunya oleh dunia virtual dan abai pada nilai-nilai spiritual sebagai penegak etika, moral dan akhlak mulia manusia sebagai penakar kualitas hidup manusia di bumi.
Demikian juga dengan perubahan sosial, pilitik, ekonomi dan budaya hibgga agama, bisa menjadi penyebab kandungan nilai-nilai spirutual sebagai soko guru penyangga utama etika, moral dan akhlak mulia manusia menjadi ambruk.
Krisis kepercayaan pun bagi manusia dapat membuat dangkal kesadaran dan pemahaman spiritual yang sangat diperlukan bagi manusia untuk menata hidup dan kehidupan agar lebih baik, lebih harmoni, lebih bersahaja dan tidak tamak dan rakus serta kemaruk untuk menggagahi hak-hak orang lain.
Tak kalah penting juga yang membuat cahaya spiritual manusia meredup atau bahkan gelap atau mati -- akibat hedonisme -- yang berlebih mengedepan hal-hal yang bersifat duniawi yang tidak perlu, apalagi hanya untuk sekedar memuaskan nafsu sebagai manusia yang lebih bersifat hewani.
Meski begitu, muatan nilai-nilai spiritual setiap manusia dapat dipulihkan melalui kesadaran diri untuk memperbaiki dan mempertajam dimensi dan getaran dari frekuensi spiritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang telah menjadi titik awal dan titik akhir dari krbetsdaan manusia di bumi.
Oleh karena itu, upaya dan usaha untuk senantiasa melakukan refleksi diri -- ikhtikaf -- seperti tafakur atau yoga bshkan semedi, sembahyang tahajjut dapat dilakukan lebih intensif dan serius untuk memulihkan kondisi batin atau jiwa yang kosong atau mengering dan gersang, supaya dapat kembali subur dan bertumbuh hingga dapat mendatangkan manfaat bagi diri sendiri maupun untuk orang lain. Pecenongan, 23 Januari 2026 (red)
