Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jacob Ereste : Puisi Esai Yang Memperkaya dan Memperluas Khazanah Sastra Indonesia

Selasa, 20 Januari 2026 | 06.46 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-19T23:48:28Z

 





kontakpublik.id, SERANG--Puisi esai itu dibuat oleh penyair yang sadar bahwa seni tidak hanya untuk seni, tapi juga harus memiliki bobot muatan 0olitik, ekonomi, sosial dan budaya serta agama dalam arti luas. Karena puisi esai itu sendiri beranhak dari kesadaran bahwa berpuisi otu tidak hanya sekedar untuk beri dah-indah, nostalgia, romantis dan tidak sekedar untuk menghivur diri, tetapi juga memiliki fungsi sosial kemasyarakatan yang lebih luas untuk mengajak merenung, menghayati, menyadari dan berperan sebagai kontrol, pengendali, memberikan keseimbangan tentang perilaku, polah tingkah munusia dalam memperlakukan alam, manusia bahkan Tuhan.


Setidaknya, puisi esai ingin memiliki arti yang lebih bermanfaat untuk hidup dan kehidupan manusia yang seba kompleks dan rumit, sehingga kesadaran, koreksi diri hingga dokap ugahari hingga solidarotas dan kepedilian terhadap alam, mamusia dan keberadaan Tuhan dalam menjadi perhatian serius bagi banyak orang.


Seperti Stand Up Komedi yang metasa perlu dan sah memssuki wilayah politik -- yang semestinya juga habitat lain -- bukan hanya sekedar pelarian atau oenyegaran, tetapi memang seharusnya begitu pengembaraan spiritual dan intelektual dilakukan, agar lebih bermanfaat dan membangun kesadaran baru manusia bahwa cakrawala ilmu dan pengetahuan serta wawasan itu harus terus bertumbuh dan berkembang hingga memutik dan menampilkan buah yang lezat, meski tidak disukai oleh semua orang. 


Tetapi yang pasti, perkembangan dari dunia sastra melalui gebrakan puisi esai patut diterima sebagai warga sastra untuk memperkaya atau memperluas habitat sastra supaya tidak jumut -- merasa lebih hebat dari karya seni yang lain, seperti umumnya perilaku  egosentrisitas kaum aktivis aktivis maupun politisi di Indonesia yang cuka sekedar ingin membesarkan perutnya sendiri, tanpa mengindahkan perut orang lain.


Inti dari keberadaan puisi esai layak dan patut diterima sebagai perkebangan sastra yang sehat -- tidak mandek -- membabgun wilayah jelajah dari pengembaraan dirinya bahwa seni itu sesungguhnya tidak pernah bergenti dan tidak pula pernah selesai, karena hakekat kesejatian dari karya seni itu sesungguh adalah "proses menjadi" yang tidak mungkin mengingkari tabiat asali dari hakekat kreatif itu sendiri sebagai fitrah bawaan  dalam semua bentuk karya seni. Banten, 19 Januari 2026 (red)

×
Berita Terbaru Update