kontakpublik.id, SERANG--Isra' dan mi'rad itu adalah perjalanan dalam dimensi spiritual yang tidak terjangkau oleh akal. Karena itu bagian dari pembuktian bahwa kemampuan akal manusia itu sungguh
terbatas, tapi kemampuan daya kangkau spiritual itu jauh mejampaui akal manusia. Sehingga perjalanan malam -- isra' itu -- dari Mekkah ke Yerusalem yang berjara berjarak sekitar 1 240 kilometer itu -- setara dengan jarak Lampung hingga Bablnda Aceh hanya 1.245 kilometer. Jadi bisa dibaya gkan perjajaban malam Nabi Muhammad SAW ketika itu belum ada pesatar terbang bisa menempuh jarak dari Mekkah ke Yesrusalem hanya dalam waktu sekejap dan terus langsung naik ke langit juga diyakini bersama Malaikat diterbangkan oleh burung Buraq milik Tuhan.
Peristiwa Isra' ini terjadi pada tahun 621 Masehi. Dan mi'raj -- prosesi naik ke langit itu pun dilakukan pada saat itu juga -- di malam yang sama -- nenunu Sidratul Muntaha, yaitu langit ke tujuh suatu tempat yang sangat dekat dengan Allah SWT, penguasa jagat raya dan seisinya berikut beragam makhluk ciptaannya. Pertemuan Nabi Besar Muhammad SAW untuk menerima langsung perintah bagi manusia untuk menunaikan sholat lima waktu. Begitulah keajaiban yang tercatat dalam sejarah Islam hingga selalu diperingati untuk memahami makna terdalam dari kandungan nilai-nilai spiritual guna mendekatkan diri kepada Allah. Demikian juga peristiwa hijrah dari Mekkah ke Madinah pada tahun berikutnya, 622 Masehi yang didasarkan oleh kecerdasan spiritual Sang Nabi. Bahwa makna hijrah dalam yang juga berdimensi spiritual ini -- nenandai perubahan besar dalam sejarah Islam -- awal dari pembentukan komunitas Muslim yang mandiri dan kuat dengan kenghindari konfik menuju tempat yang lebih kondusif yang lebih baik, meninggalkan tempat yang buruk penuh godaan dan cobaan serta rintangan untuk menikmati suasana yang damai sehingga dapat menjalankan ibadhah -- tak hanya sholat dan ketentuan lain yang menjadi tuntunan agama Islam yang mengusung semangat rahmatan lil alamin.
Dakam konteks yang lebih luas dan mendalam, hakijat hijrah itu dapat dipahami sebagai bagian dari proses transformasi spiritial dan sosial yang harmoni dalam pengertian dunia maupun akhirat. Syahdan, Yerusalem sendiri adalah kota yang berada di Palestna yang sangat penting bagi agama langit -- Islam dan Kristen maupun Yahudi yang percaya sebagai daerah yang suci. Dan dari Yerusalem Nabi Besar Muhammad SAW take of menuju langit, sehingga banyak pendapat para ahli yang percaya bahwa Yerusalem itu merupakan pintu terdekat menuju kangit. Ibarat dalam penerbangan, Yerusalem itu seperti terminal bording pemberangkatan menuju langit. Dan Nabi dikawal langsung oleh Malaikat Jibril -- semacam Kepala Satuan Pasukan -- yang kebih banyak berhubungan langsung dengan Tuhan.
Setelah menerima semaxan juklak untuk mebunaikan sholat lima waktu seperti yang dilakukan oleh Umat Islam sampai hari ini, Nabi Muhammad langsung kembali ke bumi dan mendarat menuju Nn Mekkah, dan sangat mungkin transit di Yerusalem. Tapi yang lebih menakkubkan adalah perjajaban dari Mekkah ke Yerusalem serta perjalan ke langit lapusan ke tujuh itu -- Sidratul Muntaha -- bisa dilakujan pada malam yang sama. Artinya, kalau mau dipikirkan secara ilmiah hanya untuk perjalanan dari Mekkah ke Yerusalem saja sudah sudah tidak mampu dicerna oleh akal yang sehat dan jenius sekalipun. Sebab jarak tempuh berilutnya -- selain dari Mekkah ke Yurusakem dan balik kembali dari Yerusalem ke Mekkah saja sudah lebih dari 2000 kilometer. Belum lagi jarak tempuh dari Yerusalem ke Sudratul Muntaha. Sehingga pada 2600-an tahun yang lalu itu sudah ada sejenis pesawat terbang yang memiliki kecepatan lebih dari kecepatan cahaya.
Sejedar untuk mengukur harak dari bumi -- Yerusalem -- Sidratul Muntaha, yaitu kangit lapisan ke tujuh, ternya kepongahan Artivisial Inteligence pun menyerah (AI) untuk menghitung jarak dari Yerusalem ke Sudratul Muntaha. Karena nenurut AI tidak dapat diukur secara pasti -- fisik -- karena merupakan bagian dari keajaiban spiritual. Namun dalam Qur'an jelas disebutkan bahwa Sudratul Muntaha itu berada di ujung langit (Surat Al Najm : 14). Dari pendapat para ulama jarak dari bumi ke Sudratul Muntaha itu berjarak 5.000 tahun jika ditempuh dengan berjalan kaki. Spekulasi perkiraan ini pun dilakukan oleh para ahli ilmu pasti pada ratusan tahun yang kampau. Tentu berbeda jika dijakukan sekarang debgan standar kereta cepat yang lagi viral menjadi topik pembicaraan di Indonesia. Banten, 18 Januari 2026 (red)
