kontakpublik.id, MENTENG--Diskusi bukanan rutin Aspirasi Indonesia sempat membahas berbagai soal tentang silang sengkarut yang terjadi di Indonesia, termasuk bencana di Sumatra akibat ulah manusia yang tamak dan rakus mengobral konsesi hutan dan lahan yang memberi kebebasan lebih liar menggunduli hutan hingga sungai tak mampu menampung kayu gelondongan yang dihayutkan sampai harus dimuntahkan dengan meluluh-lantak pemukiman dan harta benda warga masyarakat setemlat.
Untuk itu, hasil kesempatakan pertemuan Aspirasi Infonesia pada Selasa, 6 Januari 2026 akan mengumpulkan pakaian yang tidak atau bahkan belum terpakai untuk khusus untuk masyarakat Aceh yang didera derita paling parah akibat banjir yang masih susul menyesul terjadi sejak akhir tahun 2025 hingga hari ini yang belum bisa dipulihkan.
Karena itu satu diantara program Aspirasi untuk ikut meringankan beban warga masyarakat terdampak banjir itu akan menghimpun berbagai bentuk bantuan, terutama untuk pakaian yang tidak terpakai termasuk pakaian baru yang belum ternah terpakai.
Akai solidaritas dan kepedulian Aspirasi Indonesia ini akan dikoordinasi oleh Yudha Gemin dan Abdi Boxer untuk dikumpulkan dari seluruh anggota Aspirasi Indonesia serta para simpatisan di Sekretariat Jl. Pati No. 26 Menteng, Jakarta Pusat.
Terkait dengan bencana yang akibat ulah manusia di Sumatra yang telah mengakibatkan banyaknya jatuh korban serta kerugian harta henda yang tidak terkira jumlahnya itu, Aspirasi Indonesia akan mengadakan acara "Tobat Nasuha Nasional" dengan mengajak sejumlah tokoh dan pejabat negara yabg ada untuk mekakukan pertobatan nasional atas kesalahan tata kelola yang telah mengakibatkan rakyat harus menanggung beban penderitaan, tak hanya sebatas harta benda semata, tetapi kehilangan anggota kekuarga yang menjadi korban, bahkan tidak sedikit jumlah orang yang hilang itu belum juga ditemukan jasadnya.
Topik tentang Anti Islamophobia yang telah menjadi keputusan PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) pada 15 Maret 2022 kembali akan digaungkan agar segera mendapat pengakuan serta pengesahab dari Penerintah Indonesia menjadi hari libur nasional pada setiap tanggal resolusi tersebut disahkan sebagai kesepakatan seluruh bangsa yang ada di dunia. Bahwa Anti Islamophobia sudah saatnya menda0at perhatian bagi seluruh umat manusia di muka bumi.
Diskusi tentang beragan masalah serta pemantapan program acara Aspirasi Indonesia sekaligus persiapan menyambut bulan suci ramadhan tahun 2026 menurut Wati Salam, selain akan memveri perhatian terhadap bencana akibat ulah manusia ini, juga akan memberi perhatian pada suasana politik yang semakin tidak menentu terjadi di Indonesia pada akhir belakangan untuk ikut mencarikan solusi terbaik, utamanya terhadap gonjang ganjing ekonomi yang semakin tidak menentu, hingga semakin membuat keresahan dan kecemasan rakyat, ujar Ketua Aspirasi Indonesia sebagai penghantar diskusi seusai acara makan siang hingga menjelang magrib.
Prof. Dr. Efendi Arsyad memaparkan berbagai masalah yang pernah dan sedang terjadi di Indonesia sekarang ini, perlu dicermati dan disikapi secara kritis. Sementara Wati Salam menambahkan perlu juga dikaji lebih serius penerbitan buku yang dilakukan oleh BPIP (Badan Pembina Ideologi Pancasila) yang cuma memuat istilah NRI, tidak kagi ditulis NKRI. Bahkan nilai-nikai dari apa yang dikandung oleh Pancasila semakin membuat pemahaman warga masyarakt terhadap Pancasila menjadi semakin kabur. Seperti konsep empat pilar yang digulirkan oleh MPR RI yang memposisikan Pancasila sebagai salah satu pilar dalam berbangsa dan bernegara. Sehingga Pancasila fondasi atau dasar -- bukan sebagai pilar -- jadi terkesan tergradasi dan rendah nilainya.
Efendi Arsyad menyatakan Indonesia sedang sakit. Karena masakah bagi bangsa Indonesia adalah menghadapi kaum munsfikun, musyrikun dan fasikun. Itulah sebabnya hukum menjadi tajam je bawah dan tumpul ke atas. Tatanan umat beragama pun dibuat kacau dan porak-poranda dan diadu antara yang satu dengan yang lain. Karena itu harus tawadduk, rebdah gati, mawas diri dan mau mengevakuasi diri, agar tidak selalu merasa paling benar sendiri.
Atas dasar itulah, imbuh Wati Salam, Aspirasi Indonesia akan melakukan kajian, diskusi atau dialog yang lebih serius dengan mengundang sejumlah tokoh serta cerdik pandai Islam untuk menjawab kesan yang selalu mebdapat perlakuan yang disudutkan, seperti istilah ekstrimis dan teroris yang selalu dimunculkan untuk menyudutkan umat Islam.
Ustad Yasid Salman juga menimpali bahwa sesungguhnya semua yang terjadi itu telah diisyaratkan dalam Al Qur'an. Berbagai peringatan ternasuk sikap pongah -- sombong -- yang cenderung dilakukan oleh manusia. Sementara Andi Boxer, selaku moderator justru lebih dominan dalam kesimpulan yang dilakukannya, bahwa carut-marut negeri kita ini, katanya perlu solusi alternatif yang beragam untuk menjadi pilihan terbaik yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah bangsa dan negara Indonesia.
Mirza, sebagai aktivis yang juga terkenal sebagai Pembela Palestina merasa perlu untuk mengingatkan masalah khilafah yang tidak sepatutnya dijadikan topik bahasan yang justru akan membuat umat Islam sendiri semakin lemah. Lantaran energi yang tidak perlu terbuang sia-sia itu akan lebih besar manfaatnya untuk mendukung semangat perjuangan maupun perlawanan umat Islam terhadap mereka yang memposisikan diri sebagai musih umat Islam.
Menjelang sore topik diskusi jusyru semakin meluas dan memanas tentang gagasan untuk memisahkan Kota Mekkah dan Madinah dari kekuasaan Arab Saudi. Karena kedua wilayah tersebut seharusnya menjadi miliki umat Islam se dunia, sehingga tidak dimonopoli stau bahkan hanya menjadi milik pemerintah Arab Saudi sendiri.
Karena itu dalam waktu dekat panitia inti pelaksana program yang telah dirancang Aspirasi Indonesia seperti penglolaan media sosial, program kegiatan selama bulan ramadhan akan segera berkumpul untuk mematangkan pelaksaan sejumlah program tersebut. Menteng, 6 Januari 2026 (red)
