kontakpublik.id, SERANG--Nyaris setahun usia forum diskusi Senin-Kamis atau Kamis-Senin yang dilaksanakan GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) di Sekretariat Jl. Ir. H. Juanda No. 4 A Jakarta Pusat tak hanya melahirkan pemikiran dan gagasan besar, seperti acara pembacaan do'a 20 jam non stop, hingga pembahasan topik terhangat yang tengah mengemuka menjadi pembicaraan publik secara nasional, tapi juga telah melestarikan budaya makan ikan.
Secara tak langsung kesepakatan makan dengan lauk pauk ikan ini -- tidak hanya mendapat rangking tersendiri, mulai dari urutan pertama gulai kepala ikan, ikan pepes, lalu bakar dan yang paling terakhir menjadi menu pilihan adalah ikan goreng sambel kecap seperti menu ikan bakar yang telah menjadi konvensi dalam tradisi yang sepenuhnya diorientasikan pada menu khas lokal yang semakin menginternasional sampai sekarang ini.
Tentu saja sebagai menu pamungkasnya adakah minuman segar dan sehat yaitu beras kencur yang khas made in Mbak Ning. Meski sesekali diselingi oleh wedang Wuh minuman khas tradisi dari Jawa Tengah dan sesekali pula diselingi dengan mei godok Jowo.
Sementara menu sajian dari trade mark RM. Ayam Ancuur dan Soto Gubeng yang menjadi andalan usaha Sri Eko Sriyanto Galgendu telah merayah berbagai instansi pemerintah yang ada di sekitar Istana Merdeka -- termasuk Istana Negara Merdeka sendiri yang hampir rutin setiap minggu melahap menu sajian Rumah Makan Ayam Ancuur.
Menu hidangan dalam diskusi rutin yang santai tapi serius GMRI ini pun, acap disambangi oleh sejumlah aktivis atau tokoh pergerakan yang tetap idealis menyuarakan keluh kesah rakyat, baik melalui tulisan atau orasi langsung di atas mimbar aksi unjuk rasa yang berlangsung di berbagai tempat.
Tercatat diantaranya yang acap menyambangi Sekretariat GMRI antara lain Dr. Ishak Rafik, Wati Salam, Mayjen AD. Ridho Hermawan M.Sc, Romo Sunardjo, Guntur Pantja, Momok, Wawan Subenu, Rosa, Gus Baidhowi, Brigjen Pol. Benny Iskandar Hasibuan, Edy Mulyadi, KH. Ahmad Ghufron, Joyo Yudhantoro, Yuni, Wowok Prastowo, Prof. Yudhie Hartono dan Sri Eko Sriyanto sendiri sebagai Sohibul hajat yang juga acap disambangi sejumlah kerabat dan sahabat spiritual yang namun sulit untuk disebutkan sosoknya satu-persatu.
Yang jelas dan pasti, kontribusi pemikiran serta pandangan para sahabat dan kerabat spiritual ini sangat penting, bukan saja dalam berbagi informasi maupun membangun jaringan komunikasi yang semakin meluas dan kebar serta mendalam kajian dan telaahnya yang kritis dan tajam, tapi juga untuk saling menguji akuraritas analisis maupun argumen untuk saling memperkuat dan memperkaya khazanah ilmu dan pengetahuan yang mungkin saja hendak didistribusikan kepada publik.
Insyaallah menjelang usia setahun forum diskusi informal GMRI ini akan segera melaunching "Kitab MA HA IS MA YA" sebagai bentuk karya nyata dari usaha keras yang dilakukan Sri Eko Sriyanto Galgendu untuk mengukuhkan gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual secara lebih nyata bahwa etika, moral dan akhlak mulia manusia Indonesia akan menjadi pelopor dari gerakan kebangkitan dan kesadaran serta pemahaman spiritual untuk dunia, sehingga dapat menjadi panutan seluruh bangsa yang ada di dunia.
Dalam konteks membumikan gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual ini pula GMRI tengah merancang keliling ke berbagai manca negara untuk membangun diplomasi spiritual seperti yang telah menjadi agenda acara besar GMRI membangun gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual untuk lebih membumi melalui persahabatan dan persaudaraan antar bangsa yang ada di dunia.
Gagasan besar dalam menjalin ikatan persahabatan, persaudaraan serta perdamaian antar bangsa-bangsa ini merupakan bagian dari ide dan gagasan yang muncul dan lahir dari forum diskusi informal rutin mingguan GMRI yang nyaris berusia setahun pada bulan Desember 2025 ini. Dan bagi Sri Eko Sriyanto Galgendu, aktivitas serupa ini baginya merupakan bagian dari hasrat berbagi serta untuk berbuat lebih banyak menyemai kebaikan dalam beragam bentuk yang telah dia lakukan sejak kisaran 30 tahun silam sampai hari ini tanpa keluh, tiada letih dan tak pernah lelah, karena baginya semua telah menjadi bagian dari ketegasan dan keteguhan hati yang mempertegas orientasi spiritual yang tiada sebanding dengan material
Menurut Joyo Yudhantoro, sejumlah sosok yang tercatat ini kelak yang akan menjadi saksi sejarah sekaligus sebagai pencatat dan pelaku sejarah yang mungkin hari ini belum terlalu penting untuk diingat, namun kelak -- pada suatu saat suatu ketika nanti -- akan menjadi kenangan yang indah untuk dikisahkan kepada anak dan cucu yang perlu dibekali untuk mewarisi negeri ini. Banten, 23 November 2025 (red)
