Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jacob Ereste : Kesadaran dan Kepandaian Bersyukur Bisa Menuntun Pengembaraan Spiritual Yang Mengasyikkan

Rabu, 19 Juni 2024 | Juni 19, 2024 WIB | 0 Views Last Updated 2024-06-19T16:41:48Z

Kontakpublik.id, JAKARTA-
Bagi orang yang sadar dan pandai berterima kasih, menikmati kentut pun layak dipujikan kepada Allah, karena menyadari bahwa kentut pun merupakan karunia yang berada di luar kekuasaan manusia. Apalagi untuk banyak hal yang lain -- yang terkait dengan kemampuan bawaan tubuh -- yang nyaris seluruhnya diluar kemampuan manusia. Sehingga kesadaran terhadap kemampuan yang sedikit dari apa yang dimiliki oleh diri kita, bisa menghantar pada kesadaran betapa kuasanya Sang Maha Pencipta yang meliputi jagat raya dan seluruh isinya, termasuk manusia sebagai makhluk yang paling sempurna dibanding makhluk ciptaan Tuhan lainnya.

Karena itu kemuliaan manusia sebagai Khalifah -- wakil Tuhan di bumi -- perlu dijaga, disyukuri serta patut dikembangkan -- agar tidak merosot seperti binatang dan syetan serta iblis terkutuk hanya karena mengumbar birahi keserakahan terhadap harta dan kekuasaan bahkan wanita, seperti konsepsi yang sudah dirumuskan oleh manusia Jawa. Sebab wanita, harta dan tahta perlu disikapi lebih bijak agar tidak tergelincir dan terjebak menggradasi nilai-nilai luhur kemanusiaan, seperti yang semakin memprihatinkan pada akhir belakangan ini yang ditandai oleh berbagai sikap egois, tamak dan rakus melakukan korupsi -- tak hanya duit -- tapi juga hukum dan demokrasi akibat kemunafikan serta runtuhnya keimanan yang harus membimbing etika, moral agar memiliki berakhlak mulia.

Kesadaran dan kepandaian untuk berterima kasih kepada Tuhan dengan berbagai ekspresi syukur, berdo'a, bertasbih dan berzikir adalah bagian dari laku spiritual yang bisa dilakukan oleh semua orang, tanpa perlu sensasi untuk dipuji oleh orang lain. Apalagi hanya sekedar pencitraan -- yang pada intinya adalah ingin menipu orang lain sekaligus menipu diri sendiri. Maka itu, jalan sunyi yang ditempuh para kaum sufi dan pelaku spiritual tak butuh hingar bingar. Hingga kecenderungan untuk memilih suasana yang hening, di gunung, di pemakaman sampai melakukan olah batin di tempat-tempat yang dianggap keramat oleh banyak orang, acap salah tafsir sampai tidak sedikit diantaranya yang menganggap musyrik, takhayul, bid'ah dan seterusnya yang sesungguhnya tak perlu dihiraukan. Karena yang lebih penting adalah tetap yakin dan percaya kepada Yang Maha Pencipta serta Maha Kuasa atas seluruh jagat raya dan seisinya. Sebab laku spiritual yang ingin ditempuh dengan cara tertentu itu -- pakem utamanya adalah tidak menduakan Tuhan Yang Maha Esa, itu saja.

Jadi hanya dengan kesadaran dan kepandaian bersyukur, pun bisa menuntun pengembaraan spiritual yang mengasyikkan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Sebab dari masalah pencernaan yang sembelit pun -- jika direnungkan -- dapat menuntun keyakinan betapa kuasanya Tuhan terhadap manusia yang sesungguhnya tidak mempunyai kekuasaan atas dirinya sendiri. (Red)
×
Berita Terbaru Update