Jacob Ereste :
kontakpublik.id, SERANG--Pertemuan rutin mingguan GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) Kamis-Senin di Sekretariat, Jl. Ir. H. Juanda No. 4 A, Jakarta Pusat, memang tidak hanya sebatas evaluasi dan membahas topik terhangat selama sepekan berjalan, atau tentang program acara yang perlu dihadiri seperti menjadi nara sumber di Perguruan Tinggi Taman Siswa, Yogyakarta pada 5 April 2026, tapi juga membangun keakraban bersama keluarga sahabat dan kerabat GMRI yang telah dibangun dalam suasana kekeluargaan, seperti pada kesempatan kali ini, Wawan Subenu sengaja datang dengan tiga "jagoannya" semua lelaki bersama Sang Permaisuri sambil mengumbar nostalgia masa lalu.
Topik pembicaraan yang serius pun terus berjalan seperti relevansinya konsep Negarakertagama yang menjadi salah satu penanda masa kejayaan Kerajaan Majapahit untuk dijadikan referensi pembanding dari kondisi Indonesia hari ini yang terkesan gamang.
Sebab menurut Sri Eko Sriyanto Galgendu, salah satu sumber utama dari Pancasila yang digali oleh Soekarno untuk merumuskan falsafah hidup bangsa Indonesia seperti yang diyakini sampai sekarang -- meski implementasi dari sila-sila dari Pancasila itu, telah menjadi semacam mantra yang terlupa untuk diamalkan -- tetap relevan untuk dijadikan rujukan.
Negarakertagama sebagai tujuan dari bernegara dan berbangsa dalam versi kerajaan -- adalah rumusan pada kondisi dan situasi yang ingin dicapai, yaitu "Toto Tentren Kerta Raharja". Artinya negara yang kuat, aman, tenteram dan damai.
Esensi dari konsep Negarakertagama yang telah diwariskan Majapahit untuk menata negara dan bangsa pun telah diakui sebagai kitab historiografi tradisional sekaligus karya sastra yang ditulis oleh Empu Prapanca pada masa puncak capaian kegemilangan Raja Hayam Wuruk dalam tata pemerintahan, suasana kecerahan istana serta luasnya wilayah yang berada dalam suasana gemah Ripah loh jinawi. Dan kita Negarakertagama tak hanya menandai peran sastrawan -- seniman dalam pemerintahan -- juga menandai dokumen otentik dari adanya peradaban manusia Nusantara yang tinggi dan dahsyat nilai historis dan spiritualitasnya.
Kakawin Negarakertagama yang ditulis pada kisaran tahun 1365, ditemukan oleh J.L.A Brandes ketika mengikuti ekspedisi KNIL dari koleksi Raja Lombok, Anak Agung Anglurah Gede Ngurah Karang Asem di Istana Raja sebelum keraton itu dibakar oleh Tentara KNIL. Jadi untuk menghilangkan jejak masa silam atau dokumen yang dianggap berbahaya oleh rezim penguasa, telah ada sejak jaman penjajahan.
Nama lain dari kitab yang layak dijadikan penuntun untuk Indonesia yang adil dan makmur ini, sering juga disebut Kitan Dasawarnana. Karena itu topik bahasan dalam suasana kekeluargaan di GMRI seusai menyantap Sate Bumbu Kacang Mete, Bakso dan Ayam Ancuur khas bersama Soto Gubeng, semakin asyik menelaah program dari Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto mulai dari Makan Bergizi Gratis hingga Koperasi Merah Putih yang ideal disinkronkan dengan lembaga koperasi yang telah ada sebelumnya, agar selaras dengan amanat UUD 1945, khususnya pasal 33 sudah sangat jelas menerangkan Ikhwal dari keberadaan koperasi. Bahwa "Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan".
Dan suasana kekeluargaan di GMRI pun telah menjadi bagian dari tradisi -- atau bahkan budaya -- seperti tutur sapa untuk julukan, mulai dari Mas dan Mbakyu, Gus hingga sapaan yang tak kalah santun dan hormat dengan sebutan atau panggilan Opa. Jadi budaya pun, dalam forum Kamis-Senin atau sebaliknya, Senin-Kamis sebagai jadual kesepakatan untuk saling sapa dan bercengkerama bagi sahabat dan kerabat GMRI telah dibangun dengan kesadaran yang juga disandarkan pada nilai-nilai spiritual yang tak kalah sakral. Pecenongan, 2 April 2026 (red)
