Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jacob Ereste : Tradisi Atau Budaya Halal Bi Halal Adalah Mutiara Hikmah Penuh Nilai Spiritual

Minggu, 05 April 2026 | 15.08 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-05T08:08:40Z

 



kontakpublik.id, SERANG--Tradisi atau budaya Halal Bi Halal di Indonesia tahun ini (2026) nyaris tidak ada yang dilakukan oleh instansi pemerintah maupun lembaga dan organisasi kemasyarakatan. Penyebab utamanya, bisa jadi menandai kondisi ekonomi nasional yang masih belum juga membaik. Jika pun ada diantaran instansi pemerintah dan lembaga serta organisasi kemasyarakatan yang dapat  menyelenggarakan acara Halal Bi Halal, itu dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, kalau pun tidak bisa dikatakan dalam kondisi yang serba terbatas. 


Halal Bi Halal sendiri, sebagai tradisi atau pun budaya memang tidak ada anjurannya di dalam Al Qur'an. Jadi memang murni tradisi yang menjadi budaya dalam masyarakat Indonesia untuk dilakukan sesuai menunaikan ibadah puasa pada bulan ramadhan serta merayakan Hari Raya Idhul Fitri, sehingga terkesan menjadi bagian dari rangkaian ibadah tersebut. Tapi nilai spiritualitasnya pun tidak kalah penting, setidaknya dalam upaya membangun semangat baru dalam ikatan relasi persaudaraan, perkawanan atau bermitra dalam aktivitas dan kegiatan sehari-hari. Artinya, cukup baik juga untuk dilakukan jika mampu melaksanakannya. Sebab jalinan persaudaraan, persahabatan dan perkawanan dalam berbagai segi kehidupan -- pekerjaan dan aktivitas lainnya -- dapat dibangun atau diperkuat, sehingga dapat memberi nilai yang positif dalam lahiriyah maupun  batiniah. Dalam konteks inilah nilai-nilai spiritual yang hendak dibangun guna membentengi diri dari berbagai terpaan dan godaan yang melenakan etika (adat dan budaya), moral yang landasan karakter agar tetap kukuh dan kuat untuk menegakkan kepribadian yang tangguh dapat terbingkai dal sati figura akhlak mulia manusia yang memiliki fitrah bawaan pemberian langsung dari Tuhan. 


Acara Halal Bi Halal itu sendiri pada intinya hanya untuk meminta maaf atau saling silang  bermaaf-maafan -- sekiranya ada kesalahan yang mungkin tidak sengaja dilakukan -- maka itu, acara Halal Bi Halal lebih dominan diisi dengan acara ranah-tanah sambil menikmati kudapan yang telah disediakan oleh pihak penyelenggara acara. 


Boleh jadi, hal-hal yang terlupakan atau kenangan nostalgia masa lalu pun kembali disisir ulang untuk membangun narasi dalam lembaran baru yang mungkin dapat dilakukan bersama. Inilah sebabnya, acara Halal Bi Halal juga dianggap penting, karena lobbby dan kesepakatan baru sangat mungkin bisa disepakati untuk menjadi pekerjaan atau bahkan proyek kerjasama yang bisa dilakukan kemudian.


Sekiranya memang ada kesalahan atau mendapat perlakuan yang dianggap salah oleh seseorang, pada kesempatan acara Halal Bihalal Halal ini pun dapat dicairkan agar tidak lagi menjadi semacam duri di dalam tubuh yang dapat menjadi penghambat kerja produktif pada masa mendatang supaya dapat lebih maksimal mendatang manfaat. 


Yang tidak kalah penting dan perlu menjadi perhatian dari acara Halal Bihalal Halal adalah muatan nilai-nilai spiritual yang dapat diperoleh untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam perspektif inilah tradisi maupun budaya Halal Bi Halal memperoleh porsi yang strategis untuk membangkitkan gerakan kesadaran dan pemahaman spiritual untuk menjadi penuntun hidup tetap berada di jalan yang benar dengan Patih dan taat pada etika, serta berpegang pada tatanan moral yang baik dan benar sehingga memiliki keindahan akhlak mulia manusia sebagai khalifatullah -- wakil Tuhan -- di muka bumi. 


Begitulah fitrah dari kemuliaan manusia yang asli dan suci, saat diciptakan -- lahir -- di bumi. Jiwa yang bersih dan suci, tiada dosa dan kesalahan akan sangat menjadi energi pendorong untuk memulai hidup dengan semangat yang baru dan hati yang bersih dan lapang untuk menerima semua yang datang dengan hati terbuka. Karena itu -- acara Halal Bi Halal -- acap dihadiri dan diikuti secara seksama oleh semua umat beragama di Indonesia, sehingga rasa dan ikatan persaudaraan, perkawanan terasa begitu mesra dan ibdah. Karena acara Halal Bi Halal itu ibarat sebuah kendaraan yang mengajak ke sorga, sehingga para  panumpangnya boleh saja dari umat beragama yang lain. Sebab kebaikan pun, tidak bisa -- dan juga tidak boleh -- untuk dimonopoli oleh pihak tertentu saja. Toh, dalam acara Halal Bi Halal tidak boleh melupakan catatan dari langit yang mengingatkan tentang rahmatan lil alamin.


Persis seperti acara oven house -- istilah yang lebih lunak untuk disebut sama dengan silaturrahmi. Sekedar untuk tidak sampai terkesan dimonopoli oleh agama tertentu. Toh, esensinya adalah ingin memperkuat jalinan tali-menali silaturrahmi, persaudaraan,  perkawanan, persahabatan, kemitraan hingga relasi yang erat, utuh dan menyenangkan. Jadi, tradisi atau budaya Halal Bi Halal yang khas dilaksanakan oleh warga bangsa Indonesia seperti mutiara hikmah yang penuh nilai spiritual, dapat diikuti oleh seluruh umat beragama untuk mempererat ikatan dari tali-menali persaudaraan. Banten, 4 April 2026 (red)

×
Berita Terbaru Update