Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jacob Ereste : Fitrah Manusia Sudah Sejak Lahir Mempunyai Potensi Spiritual Untuk Mengenal dan Mendekatkan diri Kepada Tuhan

Rabu, 25 Maret 2026 | 07.52 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-25T00:52:54Z

 





kontakpublik.id, SERANG--Fitrah spiritual sebagai pemberian bawaan manusia sejak lahir dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan pengalaman hidup. Bisa lebih meningkat tapi juga bisa merosot atau sama sekali hilang tiada sisa dari dalam diri manusia. Karena itu, potensi spiritual sebagai pemberian Tuhan perlu dijaga dan dipelihara untuk kemudian dapat terus ditingkatkan kualitasnya dalam bentuk vibrasi dan frekuensinya.


Kemampuan spiritual sebagai fitrah bawaan sejak awal sudah mampu untuk mengenal Tuhan, meski sangat mungkin masih terbatas, belum begitu jauh dan mendalam kualitas kapasitas daya jelajahnya.


Kemampuan bawaan manusia untuk mengenal Tuhan bagian dari naluri manusia yang terpendam. Acap jarang diungkapkan, karena sifatnya lebih pada kepentingan pribadi yang tidak terlalu banyak terkait dengan kepentingan orang lain. Dari kesadaran dan pemahaman spiritual yang terasah dan terus ditingkatkan, manusia dapat kualitas spiritual yang meningkat. Sehingga dapat merasakan kedekatan dirinya dengan Tuhan. Pada giliran berikutnya, manusia mampu merasakan kedekatan dirinya dengan Tuhan.


Hasrat bawaan potensi spiritual setiap manusia mendorong keinginan untuk beribadah guna menemukan makna dan tujuan hidup yang lebih berkualitas melalui tatanan etika dan moral yang baik hingga dapat memiliki akhlak mulia sebagai manusia yang percaya pada kekuasaan Tuhan. Seperti kata penyair Chairil Anwar dalam karyanya : Tuhanku/ dalan termangu/ aku masih menyebut namamu.


Demikianlah naluri Ketuhanan manusia tentang Sang Maha Pencipta. Meski tak semua orang mampu mengekspresikan pemahaman dan penghayatannya tentang Tuhan. 


Kesadaran manusia terhadap keindahan alam merupakan bagian dari ekspresi dari keyakinan manusia terhadap Sang Maha Pencipta Yang Maha Kuasa atas jagat raya dan seisinya, termasuk manusia sebagai  makhluk yang paling sempurna dari makhluk lainnya.


Kesadaran terhadap keindahan alam yang sungguh sangat  menakjubkan, erat keterkaitannya dengan kesadaran manusia mempunyai ketergantungan dengan pihak lain. Sehingga dengan begitu, tiada tempat untuk bersikap pongah terhadap sesuatu apapun, terlebih kepada sesama manusia yang selalu memiliki ketergantungan pada pihak lain.


Atas kesadaran yang beranjak dari kesadaran itu pula bahwa semua tindakan apapun yang dilakukan akan mempunyai dampak dan konsekuensi logis yang bisa diperoleh, baik atau buruk akan kembali kepada diri sendiri. Oleh karena itu -- pada dasarnya -- manusia akan selalu berbuat baik dan berperilaku baik, ketika tatanan etika, moral dan akhlak manusia tidak tergoyahkan oleh ambisi dan sikap rakus serta sifat tamak seperti hewan yang terbuai oleh naluri hewaninya yang melibas naluri kemanusiaan yang tidak terjaga. Kecuali itu, kesadaran akan tanggung jawab tidak hanya sebatas dunia -- hukum yang dibuat manusia -- karena hukum Tuhan seperti yang telah lengkap narasinya dalam Al Kitab, tidak bisa diabaikan begitu saja. Meski ganjaran yang jelak pasti akan diterima tidak ketika itu akan diperoleh.


Dalam konteks ini, karma dan azab tidak bisa dielakkan, sebab bisa saja wujudnya justru lebih pedih dan perih, karena harus ditanggung oleh anak dan cucu atau  anggota keluarga lainnya. Begitulah hukum Tuhan -- sunnatullah -- yang tidak mungkin terelakkan. Kerena  hukum Tuhan memiliki tata aturan sendiri -- tidak bisa diintervensi oleh manusia -- untuk memberi ganjaran yang pasti adil, setimpal, karena Tuhan tidak mungkin bisa disogok seperti peradilan yang dilakukan oleh manusia terhadap manusia.


Azab dari Tuhan itu seperti janji pasti terhadap pelimpahan rizki atas perbuatan baik manusia yang diberikan tanpa pamrih -- apalagi sogok menyogok -- karena Tuhan hanya menginginkan manusia berbuat baik, tidak hanya kepada sesama manusia dan alam, tetapi juga harus berbuat baik kepada dirinya sendiri. Maka itu, sikap dan sifat pembohong, penipu dan munafik harus dihindari, karena perlakuan buruk seperti itu adalah perbuatan yang tidak sisukai oleh Tuhan.


Artinya, ketika manusia berperilaku jahat, culas, bohong, menipu, maling atau korupsi dan khiabat pada amanah, wajar dikutuk tak hanya oleh manusia, tetapi juga oleh Tuhan. Karena manusia telah menyia-nyiakan fitrah pemberian-Nya kepada manusia sejak lahir untuk menjadi khalifatullah -- wakil Tuhan -- di bumi. Jadi wajar saja bila Tuhan pun murka, dan akan memberikan azab yang pedih. Tentu saja sialnya, ketika ganjaran itu harus ditanggung juga oleh anak dan cucu serta anggota keluarga lainnya. Banten, 24 Maret 2026 (red)

×
Berita Terbaru Update