Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jacob Ereste : Stand Up Komedi Sama Seperti Puisi Esai Dalam Tampilan Yang Cantik Memiliki Cahaya Isi Kepala Yang Mencerahkan

Jumat, 16 Januari 2026 | 08.35 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-16T01:35:04Z

 




kontakpublik.id, SERANG--Komedi memang patut dilihat dan dinikmati sebagai kritik dan hiburan yang menyegarkan. Tak perlu diasumsikan sebagai suatu penghinaan terhapan suatu instansi atau personal, apalagi semuanya itu berdasarkan fakta dan realitas yang sudah ada dan telah menjadi pengetahuan umum bagi masyarakat. Artinya, stand up komedi sebagai seni panggung pertunjukan yang penuh muatan politik sekalipun bisa dikihat sebagai tontonan yang menghibur, tak perlu dibuat menjadi semacam ketersinggungan yang tidak termasfkan. Sebab didalam kemasan komedi itu pun dapat dipahami sebagai ekspresi dari kebebasan penyampaian pendapat dan bagian dari wujud nyata dari kedewasaan sikap demokrasi kita yang tengah mencari bentuknya yang pas dalam budaya kita yang masih gagap menerima bentuk baru peradaban yang terus berubah, bergeser untuk menentukan posisinya yang paling tepat.


Stand up komedi yang menghebohkan jagat politik dan sosial di Indonesia karena dia dilihat debagai hal yang baru -- yang dianggap tidak jamak dalam tradisi dan budaya dagelan kita yang harus tampil pulgar dan menohol berbagai tembok yang telah menjadi taneng rasa malu yang disembunyikan. Padahal, semua yang diungkap Pandji Pragiwaksono yang memang punya latar belakang keluarga politik -- diplomatis -- memang harus mengungkapkan realitas seperti itu, sebab dengan krama basasa sastra yang halus dan sopan sudah berulang kali dianggap sepi dan juga tidak menghentak perhatian orang banyak. Maka itu sejumlah nama pun dia sebut secara tekanjang, agar rasa malu yang orang  bersangkutan bisa lebih direnungkan dan dikoreksi, semacam upaya untuk mengaca diri, bahwa tampilan politik dan sosial budaya dari sosok yang terjena sasaran itu dapat menjadi meringatan bagi mereka yang lain agar tidak culas dan songong seperti tokoh yang terkesan menjadi obyek olok-olokan seniman yang pasti tetap akan mengutamakan keindahan, kesegaran sebagai tontonan.


Komedia di Indonesia tiba-tiba melambung ke langit. Seakan merobek cakrawala pandang yang terbatas dan sempit, seperti tak boleh meneronos wilayah politik dan pemeintahan. Pertunjukan global di Netflix berjudul Mens Rea seperti meletup menjadi trending topik pembicaraan banyak orang, tidak kecuali tokoh dan pengamat sosial budaya terperangah takjub dan bersedia memberikan pembelaan dan argumennya, ketika Sang Komedian mau digiring dalam jeratan hukum.


Alkisah, Mebs Rea sudah dibawa keliling ke berbagai panggung pertunjukan -- seperti grup Srimulat atau Ketoprak Keliling pada tahun 1970 hingga tahun 1980-an. Puncaknya berlangsung di pada 30 Agustus 2025 di Indonesia. Beritanya menyebuy sekutar 10 ribu penonton penuh riang gembira mentertawakan tealitas lucu yang diungkap Pandji Pragiwaksono selama dua jam tanpa sensor yang mengupas habis kebobrokan di negeri ini. Meski semua materi lawakannya adalah realitas dan fakta yang sudah mulai dilupakan oleh banyak orang, termasuk sanksi hukum dari beragam kasus itu yang terkesan tidak jelas ujung penyelesaiannya.


Upaya menyeret Pandji Pragiwaksono ke bilik hukum justru semakin membuat Stand Up Komedi yang selama ini dianggap sebagai penghibur belaka, mula disadari dapat dijadikan sarana untuk mengkritik kebebalan berbagai pihak yang tak lagi memiliki rasa malu, karena kritik model  kompensional tidak lagi mampu menggodor hati yang telah membeku, seperti tembok yang tidak lagi mampu ditelusupi dengan kelembutan dan sopan santun, sebab nilai etika dan moral sudah ikut digadaikan   dengan harga yang sangat murah.


Laporan beberapa pihak kepada Polda Metro Jaya tentang materi Stand Up Komedi dari Pandji Pragiwaksono ini pun dianggap sejumlah pihak seperti Stand Up komedi dalam bentuk yang lain, lantaran barang bukti berupa Flash Disk rekaman dari pertunjukan yang  dijadikan sebagai barang bukti laporan itu tanoa izin dan bisa didakwa sebagai pelanggaran hak cipta. Kecuali itu, pihak pelapor yang mengatasnamakan organisasi keagaman di Indonesia ini pun talah membantah, bukan bagian dari organisasi yang mereka atas nama oranisasi yang mereka sebutkan itu.


Komedi satir memang tidak cuma mematok target agar penonton bisa terbahak-bahak karena merasa terhibur dan terwakili ekspresi yang juga hendak nereka ungkapkan, tetapi yang tidak kalah penting adalah ajakan untuk merenungkan, tentang apa yang sudah kita lakukan atau apa yang bisa dilakukan dalam mensikapi realitas realitas hukum, realitas sosial dan realitas budaya yang telah terjadi akibat dari kehadian yang ganknjil dan lucu -- bahkan ironis -- terjadi di negeri yang kaya raya ini, tapi rakyat tetap banyak yang muskin. Padahal janji dalam konstitusi yang disepakati saat proklamasi dilakukan, kemiskinan dan kebodohan rakyat akan diatasi.


Jadi humor yang digunakan untuk membungkus kritik agar laku dan mau didengar oleh semua kalangan -- tak hanya pejabat publik -- memang harus dikemas, atau menghias diri seperti puisi esai agar tidak terkesan kuno -- agar supaya tidak juga membosankan -- seperti lauk-pauk yang tidak dikreasi sedemikian rupa, sehingga tan cuma lebih sedap, tapi juga lebih memarik serta memberi kesan yang tidak membosankan.


Begitulah stand up komedi, seperti genre puisi esai yang tampil lebih molek dan genial untuk lebih jelas menandai eksistensi agar bisa lebih diperhitungkan. Dan data kreativitas seniman tentu tidak boleh berhenti untuk terus menciptakan genre yang lebih cantik dan indah -- tapi juga jenial  -- tudak hanya mengandalkan kemolekan tampilan semata, tapi juga cahaya cenerlang yang ada di dalam batok kepalanya. Jadi hanya dengan begitu seni pemanggungan stand up komedi bisa naik kelas tidak cuma panggung penghibur, tapi juga merupakan  ruang kelas untuk untuk melakukan perenungan. Banten, 15 Januari 2026 (red)

×
Berita Terbaru Update